Minggu, 13 Maret 2011

Aku Sayang Tuhan Karena Dia Ternyata Sayang Aku

Aku baru ngeh kalau Tuhan itu sayang sama aku. Sumpah! Aku tak pernah berfikir sampai sejauh itu. Dulu kujalani hidup ini apa adanya. Di penghujung usia tiga puluh ini, aku baru menyadari kalau Tuhan itu Maha Penyayang. 
Gini ceritanya:
Setiap aku punya masalah yang sedikit pelik yang membuat jantung berdebar, emosi meninggi, maka aku ambil wudhu dan bersujud. Dalam sujud, dengan bahasa yang kupahami, aku meminta untuk diberikan ketenangan jiwa dan apa yang terjadi? Begitu selesai shalat, semua emosi yang melanda diri ini perlahan reda dan jiwa pun tenang. Sederhana memang, tapi ini nyata kualami.

Pernah aku punya pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan besar kuterima setiap bulannya, tapi hati ini tak terima karena aku tahu pekerjaan ini tidak sesuai dengan nurani karena menzhalimi orang lain. Ketika tekanan jiwa tak sanggup lagi kuredam, aku kembali bersujud. Begini doaku, masih dengan bahasa yang dapat kufahami, “Tuhan, kalau memang pekerjaan ini baik untukku, lindungilah aku, tapi kalau menurut-Mu tidak, maka berilah aku pekerjaan lain yang lebih baik.” Alhasil, setelah beberapa lama selalu melantun doa yang sama, Tuhan mengabulkan doaku. Diberinya aku pekerjaan lain yang meskipun pendapatannya lebih sedikit, tapi menentramkan hati. Masih tak percaya?

Ini permintaanku yang lain,”Tuhan, wujudkan mimpiku untuk mempunyai rumah.” Apa yang terjadi? Diberinya aku rezeki yang tak terkira, tentu saja dengan dibarengi usaha, dong. Tuhan ‘kan tidak mungkin memberikan rezeki seperti air hujan yang turun dari awan. Rezeki yang lumayan hingga aku dapat membeli tanah dan sekarang pun aku masih tetap rajin melapalkan permintaanku. 

Memang banyak pula keinginanku yang belum dikabulkan-Nya, tapi aku tak mau picik. Aku berfikir positip saja. Toh dengan semua kebaikan yang telah diberikannya, aku dapat menikmati hidup ini. Aku nggak mau berfikir terlalu tinggi dan mengharapkan yang muluk-muluk karena aku tahu siapa aku ini, manusia yang tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya dan selalu kekurangan.

Kini kunikmati saja pemberian-Nya. Kuharap Tuhan tetap sayang aku hingga aku pun akan semakin sayang pada-Nya.

Selasa, 08 Maret 2011

Bisakah Suatu Keyakinan dimatikan?

Setiap manusia yang punya akal sehat, bebas, dan independen pastilah akan mempelajari kebenaran agama. Orang yang sangat tidak peduli dengan agama pun seharusnya mempelajari agama, paling tidak untuk meyakinkan bahwa ajaran agama itu salah, sehingga dapat mengambil kesimpulan mempelajari agama lebih mendalam adalah sebuah kesia-siaan, Otong Sulaeman dalam buku Dari Jendela Hauzah.

Saat ini di Indonesia sedang hangat-hangatnya isyu penutupan Ahmadiyah. Berbagai elemen masyarakat yang mengaku mewakili umat Muslim Indonesia dengan penuh semangat menyerukan penutupan organisasi Ahmadiyah. Banyak pula kepala pemerintahan yang mengeluarkan peraturan daerah untuk menghentikan aktivitas Ahmadiyah di daerahnya. 

Mampukah suatu aturan meredamnya? Suatu lembaga, organisasi, atau apa pun bentuknya bisa dimatikan dan dipinggirkan, tapi kepercayaan, pemahaman, atau pola pikir manusia? Saya tidak percaya bila kepercayaan, pemahaman, atau pola pikir manusia dapat dimatikan.

Sekarang yang bisa dilakukan adalah mengebiri perkembangannya. Bagaimana caranya? Inilah saatnya para pemuka agama, ulama, menunjukkan karismanya. Saya percaya umat tidak akan menyerang dan merusak bila tidak ada provokasi dari pihak lain. Saya pun masih percaya suara ulama tetap menjadi pegangan jamaahnya.
Karena itu, solusi meredam perkembangan Ahmadiyah adalah musyawarah, bincang-bincang. Tak perlu ada kekerasan karena akan menimbulkan trauma dan perlawanan dari pihak musuh. 

Sekarang permasalahannya, mau tidak ulama menurunkan egonya datang ke lingkungan Ahmadiyah untuk ngobrol dan sharing guna menyamakan persepsi mengenai Islam yang benar. Bila tetap sulit karena memang susah mematikan pemahaman seseorang, maka peran seorang ulama adalah melakukan advokasi terhadap masyarakat luas agar tidak terpengaruh ajaran tadi.

Saya melihat ulama sekarang bersikap eksklusif. Mereka hanya menunggu di tempat dan jamaah yang datang menghampiri. Padahal idealnya seorang ulama adalah menghampiri, menjemput umat yang berserakan di luar yang bingung dengan pilihan hidupnya dan merangkulnya untuk ke jalan yang benar. 

Sekarang sudah tiba saatnya ulama menjemput jamaah Ahmadiyah yang sedang kebingungan dengan lembut dan halus, bukan dengan cara kekerasan karena citra Islam dipertaruhkan di sana.

Senin, 28 Februari 2011

Permainan Anak Tak Akan Pernah Lekang


Jam setengah lima sore, dengan kendaraan andalan, sepeda roda dua, Penulis memasuki jalan perumahan menuju rumah. Penulis menghentikan kendaraan ketika bola sepak berhenti tepat didepan motor. 

“Tendang, Om!”teriak seseorang dari lapangan.

Kuarahkan motor mendekati bola sepak dan menendangnya menuju anak-anak yang berkerumun di lapangan voli. Serentak anak-anak tadi bergerak mengejar bola sepak yang kulitnya sudah terkelupas habis akibat sepakan banyak kaki itu. Sebenarnya bola sepak itu tak layak lagi dimainkan karena sudah bocor hingga tidak membal. Pasti produk murahan, tapi bola sepak itu adalah barang mewah bagi mereka. Permainan tetap berjalan. Meriah, ceria, dan penuh sportifitas. 

Kenangan pun berbalik ke masa kecil ketika dengan teman-teman sepermainan, Penulis memperebutkan bola plastik yang sudah pecah di teras rumah panggung kayu kami yang luas. Lingkungan rumah yang berada diatas sungai, hingga tidak tersedia lapangan luas, membuat kami beradaptasi dalam bermain sepakbola. Tetap dengan keceriaan khas anak-anak. Menyenangkan. 


Berbagai jenis permainan anak tradisional banyak tersebar diberbagai daerah di Indonesia, bahkan di dunia, disinyalir terancam punah karena tidak ada lagi yang memainkannya. Padahal aneka permainan tersebut memiliki banyak keunggulan yang tak didapat pada permainan modern, seperti tumbuhnya rasa solidaritas atau kesetiakawanan, rasa empati kepada sesama, keakraban  dengan alam, dan selalu menjunjung nilai sportifitas. Selain itu, aneka permainan anak tradisional juga akan  menjauhkan anak dari sikap konsumtif, menampilkan kegembiraan, gerak tubuh yang ekspresif, disamping juga melatih tingkat kecerdasan dan logika.

Bunyi klakson mobil menyadarkan Penulis, maka kuteruskan perjalanan menuju rumah. Di jalan depan rumah, anak-anak sedang mengerjakan sesuatu. Penuh tawa dan canda. Penulis memarkir motor dan bergabung dengan keriaan anak-anak tadi. Mereka mengumpulkan batok kelapa, tali rapia, dan paku. 
Batok kelapa yang sudah diambil isinya dibagi dua dan dirapikan ujungnya. Kemudian dengan bantuan paku, atasnya dibolongi. Setelah itu, dari lubang tadi dimasukan tali plastik dan diikat ujungnya sementara ujung tali plastik satu lagi disambung ke batok yang lain hingga menyerupai sandal bakiak dengan tali rapia sebagai pegangannya. Setelah menyelesaikan pekerjaan, permainan pun dimulai. Masing-masing anak memegang alat permainannya dan, prit!, lomba berlangsung meriah ditingkahi teriakan dari suporter. Bergantian mereka berlomba. Penuh keceriaan dan sportifitas.

Kenangan kembali hadir kala kami berlomba enggrang yang terbuat dari kayu reng. Biasanya enggrang terbuat dari bambu, tapi, karena keterbatasan bambu di lingkungan kami, jadilah kayu sebagai gantinya. Tetap menarik dan penuh keriangan. Sportifitas tetap dijunjung.

Waktu terus berjalan, generasi pun berganti, tapi permainan anak-anak tetap hadir. Keriaan akan tetap ada diantara mereka. Penulis tak percaya kalau ada yang mengatakan permainan anak-anak akan tergerus waktu dan kecanggihan teknologi karena permainan anak tak akan lekang dan akan beradaptasi dengan kebutuhan sang anak dan perkembangan zaman. Itulah sisi lain yang dapat diperoleh dari aneka permainan tradisional adalah memungkinkan timbulnya inisiatif, kreatifitas anak untuk menciptakan dan inovasi untuk memproduksi sendiri. Dengan munculnya daya kreatifitas itu, si anak akan mencoba mencari desain baru dan mengadaptasi permainan yang mereka butuhkan. 

Kepada anak-anak di seluruh dunia, selamat menikmati indahnya masa kanak-kanak. Bermain, bermain, dan bermainlah. Penuhi imajinasi kanak-kanak untuk menjadi kenangan di masa dewasa.

Macam Permainan anak-anak tradisional:

Bekel, Bola Bekel. Permainan bekel menggunakan bola berwarna-warni yang terbuat dari karet dan biji berbentuk khusus yang terbuat dari kuningan. Untuk mengurangi daya beli, bola bekel sekarang bewarna polos dan biji pun bisa bisa menggunakan media batu atau benda kecil lainnya. 
Cara bermainnya : Setelah menentukan giliran siapa yang mulai lebih dulu, permainan dimulai dengan melemparkan bola ke atas dan menghamparkan biji. Setelah bola memantul sekali, bola harus diambil kembali. Kemudian, pemain harus mengambil satu per satu biji yang terhampar secara langsung. Setelah terambil semua, biji dihamparkan kembali dan diambil kali ini sekaligus dua buah biji. Begitu selanjutnya sampai sejumlah biji yang dimainkan. Setelah mengambil biji secara langsung selesai, maka kini pemain harus mengubah biji menjadi bentuk tertentu sebelum diambil. 
Pemain akan kehilangan gilirannya apabila bola memantul lebih dari sekali, tidak dapat menangkap bola, lupa mengubah salah satu biji menjadi posisi tertentu saat sudah mencapai tahap pit, ro, cin atau peng, atau menyentuh biji lain saat mengambil biji yang harus diambil. 
Pemenangnya adalah yang mencapai tahap paling tinggi.

Petak Umpet, Sumputan. Permainan ini dimainkan oleh banyak anak. Cara bermain: Satu orang pemain yang kalah akan menutup matanya pada salah satu tempat yang dianggap sebagai benteng, sementara yang lain mencari tempat untuk bersembunyi. Setelah menghitung sampai jumlah tertentu, maka mulailah pemain yang menutup mata tersebut mencari tiap orang yang bersembunyi. Bila telah menemukan orang yang bersembunyi, pencari ini harus cepat berlari ke benteng sambil menyebut nama orang yang ketahuan persembunyiannya. Begitu juga dengan anak yang ketahuan, karena bila berhasil lebih dulu menyentuh benteng, maka pada tahap selanjutnya dia tidak akan jaga. Anak lain yang bersembunyi dapat pula menyentuh benteng agar tidak jaga pada tahap selanjutnya, asalkan tidak ketahuan dengan pencari. Setelah semua telah ketahuan persembunyiannya, maka pencari akan menutup matanya kembali pada benteng dan anak-anak lain membentuk barisan di belakangnya. Pencari akan menyebut salah satu nomor. Anak yang ada di urutan nomor yang disebut akan menjadi pihak yang kalah bila tadi dia tidak berhasil lebih dulu mencapai benteng. Sedangkan bila anak pada urutan yang disebut ternyata adalah anak yang berhasil mencapai benteng lebih dulu pada saat ketahuan tempat persembunyiannya, maka si pencari tetap dalam posisi kalah dan permainan dilanjutkan.

Petak Jongkok, kejar-kejaran. Permainan ini dimainkan oleh banyak anak dan tidak memerlukan alat bantu. Cara bermain: Tentukan satu orang yang akan mengejar. Untuk menghindari pengejar, setiap anak boleh jongkok. Bila jongkok berarti dia tidak dapat disentuh oleh pengejar. Anak yang berdiri dapat membangunkan anak yang jongkok. Anak yang tidak jongkok dan berhasil disentuh oleh pengejar akan menjadi pengejar selanjutnya. Apabila semua pemain jongkok, maka permainan dianggap selesai dan permainan mulai lagi dari awal dengan menentukan satu orang yang akan mengejar sementara pengejar terdahulu lepas dari kewajiban.

Petak Benteng, Bentengan. Permainan berkelompok yang terbagi menjadi 2 tim. Cara bermain: Masing-masing tim menentukan bentengnya, dapat berupa pohon, tiang, atau tembok. Mereka berusaha menawan anggota tim lawan agar dapat merebut benteng lawan. Permainan dimulai dengan salah satu anggota keluar dari benteng, maka anggota tim lawan akan berusaha menyentuh orang tersebut. Tetapi anggota tim pertama dapat langsung menyerang dengan berusaha menyentuh pemain yang keluar tersebut begitu pula dengan tim lawan. Untuk menghindari disentuh, mereka dapat kembali ke benteng masing-masing.
Siapa yang tersentuh akan ditawan di benteng lawan. Teman satu tim dapat berusaha menyelamatkan teman-teman yang tertawan dengan mendatangi benteng lawan dan menyentuh teman-temannya, tetapi tentu saja tidak boleh tersentuh lawannya. Harus ada anggota tim yang menjaga bentengnya. Bila benteng lawan tidak ada yang menjaga, maka pemain dapat menyentuh benteng tersebut yang berarti tim tersebut menjadi pemenangnya.


Taplak, Engklek, Cak Engkling. Arena permainan ini berbentuk kotak-kotak memanjang.  Ada satu kotak dan kotak yang terbagi 2 dengan gambar setengah lingkaran pada bagian atas yang menyerupai gunung. Ada pula arena bermain yang berbentuk kotak-kotak seperti jaring-jaring kubus. Cara bermain: Tiap anak memegang batu kecil sebagai alat permainan dan berusaha melemparkan ke arena, mulai dari kotak yang pertama. Lalu anak akan berjinjit masuk ke dalam kotak-kotak tersebut. Setelah berhasil sampai ujung, anak harus kembali ke tempat asal, sambil memungut batu miliknya yang berada dalam kotak. Giliran akan berganti bila saat anak berjinjit, dia menyentuh garis atau salah melemparkan batu.
Setelah berhasil menempatkan batu sampai ujung, dia akan mendapatkan bintang. Dimana bintang diletakkan, ditentukan dengan melemparkan batu ke kotak yang diinginkan. Kotak yang terdapat bintang miliknya tidak boleh diinjak oleh lawan-lawannya sehingga akan menyulitkan lawan. Anak yang paling banyak mendapatkan bintang adalah pemenangnya.

Rabu, 09 Februari 2011

Demokrasi Versi Rezim Berkuasa


Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi tak langsung). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία – (dēmokratía) "kekuasaan rakyat",yang dibentuk dari kata δῆμος (dêmos) "rakyat" dan κράτος (Kratos) "kekuasaan", merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.
Semangat Demokrasi sempat padam ketika perjalanan sejarah dunia lebih mendukung sistem kerajaan. Ini terlihat ketika Eropa menganut  sistem feodal dimana kehidupan sosial dan spiritual dikuasai Paus dan pemuka agama sementara kehidupan politik dikuasai para bangsawan.
Barulah ketika pemikir-pemikir jenial yang muak dengan kekisruhan, skandal, dan pertumpahana darah antar kerajaan kembali melirik sistem Demokrasi. Pemikir-pemikir yang mendukung berkembangnya Demokrasi mulai bermunculan seperti John Locke dari Inggris (1632-1704) dan Mostesquieu dari Perancis (1689-1755). Menurut Locke hak-hak politik mencakup atas hidup, hak atas kebebasan dan hak untuk mempunyai milik (life, liberty and property), sedangkan Montesquieu menyusun suatu sistem yang dapat menjamin hak-hak politik dengan pembatasan kekuasaan yang dikenal dengan Trias Politica. Trias Politica sendiri menganjurkan pemisahan kekuasaan, bukan pembagian kekuasaan. Kekuasaan pemerintahan dipisah menjadi 3 kekuasaan. Ketiganya terpisah agar tidak ada penyalahgunaan wewenang. Dalam perkembangannya konsep pemisahan kekuasaan sulit dilaksanakan, maka diusulkan perlu meyakini adanya keterkaitan antara tiga lembaga yaitu eksekutif, yudikatif dan legislatif.
Dalam perjalanannya, Demokrasi mengalami perkembangan, baik itu dalam hal definisi maupun adanya penambahan nama. Secara definisi, ada Demokrasi Parlementer, Demokrasi dengan sistem pemisahan kekuasaan, Demokrasi melalui Referendum, dan banyak lagi, sedangkan demokrasi dengan penambahan nama, kita ambil contoh di Indonesia, yaitu Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin, dan Demokrasi Pancasila. Evolusi demokrasi pun akan terus berlanjut.
Definisi Demokrasi yang dianut  oleh beberapa Negara, yaitu:
1.      Demokrasi Parlementer, adalah suatu demokrasi yang menempatkan kedudukan badan legislatif lebih tinggi dari pada badan eksekutif. Kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Perdana menteri dan menteri-menteri dalam kabinet diangkat dan diberhentikan oleh parlemen. Dalam demokrasi parlementer Presiden menjabat sebagai kepala negara.
2.      Demokrasi dengan sistem pemisahan kekuasaan, dianut sepenuhnya oleh Amerika Serikat. Dalam sistem ini, kekuasaan legislatif dipegang oleh Kongres, kekuasaan eksekutif dipegang Presiden, dan kekuasaan yudikatif dipegang oleh Mahkamah Agung. Dengan adanya pemisahan kekuasaan seperti itu, akan menjamin keseimbangan dan menghindari penumpukan kekuasaan dalam pemerintah.
3.      Demokrasi melalui referendum adalah pengawasan dilakukan oleh rakyat dengan cara referendum. Sistem referendum menunjukkan suatu sistem pengawasan langsung oleh rakyat. Demokrasi Referendum terbagi dua lagi, yaitu referendum obligator yang lebih menekankan pada pemungutan suara yang wajib dilakukan dalam merencanakan pembentukan UUD Negara  dan referendum fakultatif yang menenkankan pada pemuungutan suara tentang rencana undang-undang yang sifatnya tidak wajib.
Tapi ada fenomena menarik mengenai demokrasi bila itu berkaitan dengan kekuasaan  rezim sebuah pemerintahan. Dengan dalih azas kebebasan bersuara, berpendapat, dan untuk kemaslahatan umat, maka berbagai faham demokrasi dengan sebutan yang disesuaikan dengan kepentingan rezim tersebut terbit. Dalam sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, kita mengenal  Demokrasi versi pemerintahan Orde Baru, yaitu :
1.      Demokrasi Liberal adalah demokrasi yang mendasarkan pada sistem dimana kekuasaan penguasa dibatasi secara ketat sementara setiap individu diberikan kebebasan secara istimewa. Di sini negara tidak ikut campur dalam urusan warganya kecuali yang menyangkut kepentingan umum, seperti bencana alam, hubungan luar negeri, dan lain-lain.
2.      Demokrasi Terpimpin adalah adalah demokrasi yang sempat ada di Indonesia, yang seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpinnya saja.
3.      Demokrasi Komunis adalah demokrasi yang mendasarkan diri pada ajaran Karl Marx dimana hak perseorangan harus dikalahkan dan dijadikan milik bersama. Sistem ini juga menghendaki pengaturan masyarakat secara keseluruhan atas dasar tertentu dengan kelomp kecil penguasa yang memonopoli kekuasaan.
4.      Demokrasi Pancasila adalah  demokrasi yang bersumber pada
kepribadian
dan filsafat hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Hal ini
menyeb
abkan berbagai bentuk pelaksanaan demokrasi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, & bernegara harus berdasarkan Pancasila.
Dan sekarang setelah runtuhnya Blok Timur dan meninggalkan satu kekuatan saja, AS dan Barat, maka sejarah Demokrasi pun terus bergulir. Kini Barat menebarkan Demokrasi Koboy ke seluruh penjuru dunia. Sebenarnya sistem ini telah lama diterapkan, tapi tidak teraktualisasikan karena kalah, atau bisa saja disembunyikan, dengan persoalan-persoalan dunia lainnya.
Sekarang apa itu Demokrasi Koboy? Demokrasi Koboy, Demokrasi yang dikemas sedemikian rupa dan berkedok atas azas kebebasan berpendapat yang diperkenalkan oleh Amerika Serikat dan begundal-begundalnya, mempunyai  definisinya sederhana saja, yaitu suatu negara dikualifikasikan sebagai negara demokrasi apabila negara tadi bersedia menjadi hamba AS dan Negara Barat serta mau menjalankan kebijakan dan menjaga semua kepentingan Barat di Negara tersebut.
 Kita ambil contoh :
1.      Pemerintahan Soekarno awalnya adalah partner dunia Barat hingga kekuasaannya bisa langgeng dengan Demokrasi Terpimpinnya hingga ketika Soekarno beralih ke Rusia, maka Barat pun bergerak menjatuhkannya.
2.      Pemerintahan Soeharto mampu berkuasa selama 32 tahun karena selalu manut dengan Barat. Hanya karena kekuatan rakyat saja Orde Baru dapat ditumbangkan.
3.      Kemenangan Hamas pada Pemilihan Umum Palestina dianggap tidak sah oleh Barat karena Hamas mustahil untuk bisa dijadikan boneka Barat. Padahal Pemilihan Umum tersebut dinyatakan berjalan baik oleh pengamat asing yang notabene berasal dari Barat.
4.      Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun tetap didukung Barat dengan misi diplomatiknya, “tak mau campur tangan urusan dalam negeri negara lain”, meskipun nyata-nyata Hosni Mubarak adalah diktator. Alasannya hanya satu, Hosni Mubarak mau menjaga kepentingan Israel dan Barat di kawasaan Timur Tengah.
Sebenarnya terlalu banyak contoh kesewenang-wenangan Barat dalam menanamkan konsep Demokrasi Koboi diberbagai belahan dunia ini dan atas nama nikmatnya kekuasaan pula banyak kepala pemerintahan yang dengan rela menjadi kaki tangan Barat.

Rabu, 19 Januari 2011

Mencari Format Jambi Masa Depan


Dalam rangka HUT Propinsi Jambi yang ke 54, Jambi Discussion Forum bekerja  sama dengan Harian Umum Jambi Ekspres mengadakan diskusi terbatas mengenai Revitalisasi Ideas Pendidikan Bermutu, Identitas Budaya, Pemberdayaan Masyarakat, dan Penguatan Ekonomi dalam Rancang Bangun Provinsi Jambi.

Diskusi yang dihadiri oleh banyak akademisi Jambi ini menghasilkan beberapa rekomendasi, yaitu
  1. Identitas yang kuat dan jelas melalui penguatan budaya daerah dengan agenda revitalisasi budaya dengan kegiatan reinventing budaya atas dasar sense of urgent.
  2. Manusia yang unggul melalui pendidikan berkualitas dengan agenda reformasi pendidikan.
  3. Ekonomi maju melalui pendekatan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat dengan menemppatkan ekonomi sebagai variable dengan agenda transformasi ekonomi.
  4. Masyarakat sehat dan maju melalui agenda transformasi program pemberdayaan.

Rekomendasi ini akan ditindaklanjuti oleh Komunitas Jambi Baru, kumpulan pemikir muda Jambi yang punya pemahaman sama dalam melihat Jambi masa depan, dengan melakukan sosialisasi 4 rekomendasi ke pemerintah dan berbagai elemen masyarakat sehingga diharapkan akan menjadi langkah awal bersama guna mencapai Jambi masa depan yang diinginkan. Insya Allah.

Senin, 10 Januari 2011

Taman Rimba, Objek Wisata Kota Jambi


Libur telah tiba. Libur telah tiba. Hore-Hore-Hore! Libur semester pertama sekolah telah menjelang. Dua junior di rumah menagih janji untuk pergi berlibur ke luar kota. Tapi, apa daya. Kesibukan kerja tak bisa ditolerir. Akhir tahun adalah deadline pekerjaan dan merupakan masa panen bagi sang ayah. Akhirnya, setelah perjuangan keras menyakinkan untuk menunda masa liburnya, mereka pun setuju untuk menghabiskan masa liburan di rumah saja. Kasihan.
Minggu sore, setelah mandi dan bersiap, saya, istri, dan duo junior berangkat menuju salah satu objek wisata andalan yang terdapat di Kota Jambi. Objek wisata ini berupa hutan kota seluas 18 ha yang berada tidak jauh dari Bandar Udara Sultan Thaha. Keberadaan objek wisata ini merupakan upaya pemerintah setempat untuk menyediakan tempat hiburan yang nyaman bagi masyarakat di tengah minimnya sarana bermain, taman hiburan, dan tempat wisata di Kota Jambi. Dengan menggabungkan dua konsep wisata, yaitu wisata hiburan dan kebun binatang, Pemprov Jambi menamakan objek wisata ini sebagai Taman Mini dan Taman Rimba Jambi.
Dibandingkan dengan nama resminya, Taman Mini dan Taman Rimba Jambi, hutan kota ini lebih dikenal oleh masyarakat Jambi dengan nama Taman MTQ karena di tahun 1997, kawasan ini dijadikan sebagai pusat penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional ke-18. Sekarang dapat dilihat beberapa fasilitas penunjang kegiatan tersebut, seperti tribun, rumah panggung (Kejang Lako), dan sebuah monumen kapal tradisional serta 6 rumah adat yang mewakili kabupaten yang ada di Provinsi Jambi.
Sebagai hutan taman kota, Taman Rimba memiliki banyak koleksi  pepohonan dan hewan. Jenis-jenis pohon tak dapat ditulis karena kurangnya informasi dan letaknya yang sedikit susah dijangkau kendaraan sementara untuk koleksi hewannya belum begitu banyak. Jenis-jenis burung yang dipelihara di taman ini, antara lain burung rangkok, pelikan laut, elang, rajawali, bangau, burung kasuari, burung unta, dan banyak lagi. Burung-burung tadi ditempatkan di dalam satu bangunan berbentuk setengah bola besar sehingga pengunjung dapat melihat koleksi hutan taman rimba dengan leluasa.
Hewan yang menjadi maskot objek wisata ini adalah Yanti, gajah betina yang menjadi kesayangan para pengunjung; Peter dan Uni, dua ekor harimau sumatera sebagai pengganti Shela, harimau yang dibantai oleh pencurinya; beberapa pasang rusa tutul yang didatangkan dari Jakarta; buaya-buaya yang kerjanya hanya tidur dan menjemur diri; dan kuda poni yang merupakan koleksi terbaru taman rimba.
Lebih kurang lima belas menit dengan berkendara, kami pun tiba di taman yang didirikan sekitar awal tahun 80-an ini. Ada dua buah pintu masuk utama ke Taman Rimba, pintu gerbang utama dan pintu gerbang belakang, sementara jalan tikus ada beberapa. Bila menggunakan kendaraan roda empat, biasanya akan dikutip uang yang besarnya bergantung selera si pemungut tanpa ada pemberian karcis, sedang untuk masuk ke kebun bintang petugas akan menarik restribusi Rp. 5.000,- untuk pengunjung dewasa dan Rp. 3.000,- untuk anak-anak. Agar dapat masuk Taman Rimba tanpa mengeluarkan biaya sebaiknya kita melewati jalan-jalan tikus atau jika kita berkendara roda empat bisa juga datang ke tempat ini dikala sore hari. Dijamin gratis.
Memasuki areal Taman Rimba, kita disuguhi pemandangan khas anak muda. Beberapa komunitas motor mejeng dengan motor kebanggaannya dibeberapa sudut strategis, mereka yang datang berpasangan biasanya mojok di tempat-tempat tertentu atau duduk mesra di motornya, mereka yang punya hobi ngebut pun dapat terpuaskan dengan racing di jalan-jalan di areal Taman Rimba, sementara banyak pula remaja  yang jogging di track yang tersedia ditengah areal eks MTQ.
Sementara untuk anak-anak tersedia boom boom car, komidi putar mini, arena permainan mandi bola, dan fasilitas permainan lainnya yang sifatnya outdoor. Sambil menunggu sang anak bermain, orang tua bisa menikmati aneka jajanan yang tersedia di ruang terbuka.
Setelah berkendara mengelilingi Taman Rimba, motor pun diarahkan ke kebun binatang. Setelah parkir motor dengan membayar restribusi Rp. 1.000,-, dan membayar tiket kami menuju kandang Peter dan Uni, si harimau.  Bercanda sebentar dengan sang Rimau, kaki bergerak ke kandang buaya yang sayangnya tidak punya nama, terus menuju si kuda poni yang terus bergerak anggun. Setelah berfhoto sebentar, kami menuju rumah rusa tutul. Di sana kami melihat dua rusa jantan sedang bertarung sementara rusa-rusa betina bercanda dengan para pengunjung. Puas dengan rusa, kami menuju sarang kasuari dan merak. Sayangnya sang merak tidak memperlihatkan kecantikannya.
“Apa, tuh, yang teriak-teriak?”Tanya si kecil. Segera kami mendekat. Ternyata “saudara tua” sedang berakrobatik dan benyanyi. Beberapa landak menampakkan moncongnya dari lubang sarang. Akhirnya kami mendekati Yanti yang sedang menyantap sajian yang ditawarkan pengunjung, yaitu tebu, pisang dan buah-buahan lainnya. Sayangnya ada beberapa pengunjung yang sedikit “kreatif” dengan mencabuti tumbuhan yang ada dan menyerahkan daunnya kepada Yanti. Padahal telah ada pengumuman untuk tidak mengganggu tanaman dan memberi makan pada hewan. Rupanya mereka tidak bisa membaca.
Puas melihat Yanti menyantap makanannya, langkah pun diarahkan ke sangkar burung raksasa. Dengan berjalan memutari gedung kami dapat melihat beberapa koleksi burung yang sedang bersantai. Setelah itu, si sulung berniat keras untuk menunggang kuda. Setelah menunggu antrian, dengan membayar Rp. 5.000,-, tercapailah cita-citanya untuk menjadi Pangeran Diponegoro.
Tak sampai tiga puluh menit di areal kebun binatang mini, kami melangkah ke tempat parkir dan bergerak meninggalkan Taman Rimba Jambi yang terus berbenah dan memperlengkapi diri dengan berbagai penambahan koleksi binatang, fasilitas permainan, dan fasilitas penunjang lainnya. Semoga niat baik Pemprov Jambi untuk memberikan sarana hiburan yang bermutu untuk warganya dapat segera terwujud. Amiin.

Senin, 13 Desember 2010

Tradisi Aqiqah dan Cukuran dalam Masyarakat Jambi

Pemotongan Rambut oleh Tetua Masyarakat. Biasanya diwakili oleh 7 orang. Rambut yang telah dipotong akan dimasukan ke air kelapa. Setelah itu pemotong akan disemprot parfum.

Kompangan. Salah satu kesenian tradisional khas Jambi. Kesenian ini digelar saat acara Aqiqah ketika pemmbacaan Barjanzi. Selain itu, Kompangan diperdengarkan ketika acara pernikahan.