Rabu, 19 Januari 2011

Mencari Format Jambi Masa Depan


Dalam rangka HUT Propinsi Jambi yang ke 54, Jambi Discussion Forum bekerja  sama dengan Harian Umum Jambi Ekspres mengadakan diskusi terbatas mengenai Revitalisasi Ideas Pendidikan Bermutu, Identitas Budaya, Pemberdayaan Masyarakat, dan Penguatan Ekonomi dalam Rancang Bangun Provinsi Jambi.

Diskusi yang dihadiri oleh banyak akademisi Jambi ini menghasilkan beberapa rekomendasi, yaitu
  1. Identitas yang kuat dan jelas melalui penguatan budaya daerah dengan agenda revitalisasi budaya dengan kegiatan reinventing budaya atas dasar sense of urgent.
  2. Manusia yang unggul melalui pendidikan berkualitas dengan agenda reformasi pendidikan.
  3. Ekonomi maju melalui pendekatan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat dengan menemppatkan ekonomi sebagai variable dengan agenda transformasi ekonomi.
  4. Masyarakat sehat dan maju melalui agenda transformasi program pemberdayaan.

Rekomendasi ini akan ditindaklanjuti oleh Komunitas Jambi Baru, kumpulan pemikir muda Jambi yang punya pemahaman sama dalam melihat Jambi masa depan, dengan melakukan sosialisasi 4 rekomendasi ke pemerintah dan berbagai elemen masyarakat sehingga diharapkan akan menjadi langkah awal bersama guna mencapai Jambi masa depan yang diinginkan. Insya Allah.

Senin, 10 Januari 2011

Taman Rimba, Objek Wisata Kota Jambi


Libur telah tiba. Libur telah tiba. Hore-Hore-Hore! Libur semester pertama sekolah telah menjelang. Dua junior di rumah menagih janji untuk pergi berlibur ke luar kota. Tapi, apa daya. Kesibukan kerja tak bisa ditolerir. Akhir tahun adalah deadline pekerjaan dan merupakan masa panen bagi sang ayah. Akhirnya, setelah perjuangan keras menyakinkan untuk menunda masa liburnya, mereka pun setuju untuk menghabiskan masa liburan di rumah saja. Kasihan.
Minggu sore, setelah mandi dan bersiap, saya, istri, dan duo junior berangkat menuju salah satu objek wisata andalan yang terdapat di Kota Jambi. Objek wisata ini berupa hutan kota seluas 18 ha yang berada tidak jauh dari Bandar Udara Sultan Thaha. Keberadaan objek wisata ini merupakan upaya pemerintah setempat untuk menyediakan tempat hiburan yang nyaman bagi masyarakat di tengah minimnya sarana bermain, taman hiburan, dan tempat wisata di Kota Jambi. Dengan menggabungkan dua konsep wisata, yaitu wisata hiburan dan kebun binatang, Pemprov Jambi menamakan objek wisata ini sebagai Taman Mini dan Taman Rimba Jambi.
Dibandingkan dengan nama resminya, Taman Mini dan Taman Rimba Jambi, hutan kota ini lebih dikenal oleh masyarakat Jambi dengan nama Taman MTQ karena di tahun 1997, kawasan ini dijadikan sebagai pusat penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional ke-18. Sekarang dapat dilihat beberapa fasilitas penunjang kegiatan tersebut, seperti tribun, rumah panggung (Kejang Lako), dan sebuah monumen kapal tradisional serta 6 rumah adat yang mewakili kabupaten yang ada di Provinsi Jambi.
Sebagai hutan taman kota, Taman Rimba memiliki banyak koleksi  pepohonan dan hewan. Jenis-jenis pohon tak dapat ditulis karena kurangnya informasi dan letaknya yang sedikit susah dijangkau kendaraan sementara untuk koleksi hewannya belum begitu banyak. Jenis-jenis burung yang dipelihara di taman ini, antara lain burung rangkok, pelikan laut, elang, rajawali, bangau, burung kasuari, burung unta, dan banyak lagi. Burung-burung tadi ditempatkan di dalam satu bangunan berbentuk setengah bola besar sehingga pengunjung dapat melihat koleksi hutan taman rimba dengan leluasa.
Hewan yang menjadi maskot objek wisata ini adalah Yanti, gajah betina yang menjadi kesayangan para pengunjung; Peter dan Uni, dua ekor harimau sumatera sebagai pengganti Shela, harimau yang dibantai oleh pencurinya; beberapa pasang rusa tutul yang didatangkan dari Jakarta; buaya-buaya yang kerjanya hanya tidur dan menjemur diri; dan kuda poni yang merupakan koleksi terbaru taman rimba.
Lebih kurang lima belas menit dengan berkendara, kami pun tiba di taman yang didirikan sekitar awal tahun 80-an ini. Ada dua buah pintu masuk utama ke Taman Rimba, pintu gerbang utama dan pintu gerbang belakang, sementara jalan tikus ada beberapa. Bila menggunakan kendaraan roda empat, biasanya akan dikutip uang yang besarnya bergantung selera si pemungut tanpa ada pemberian karcis, sedang untuk masuk ke kebun bintang petugas akan menarik restribusi Rp. 5.000,- untuk pengunjung dewasa dan Rp. 3.000,- untuk anak-anak. Agar dapat masuk Taman Rimba tanpa mengeluarkan biaya sebaiknya kita melewati jalan-jalan tikus atau jika kita berkendara roda empat bisa juga datang ke tempat ini dikala sore hari. Dijamin gratis.
Memasuki areal Taman Rimba, kita disuguhi pemandangan khas anak muda. Beberapa komunitas motor mejeng dengan motor kebanggaannya dibeberapa sudut strategis, mereka yang datang berpasangan biasanya mojok di tempat-tempat tertentu atau duduk mesra di motornya, mereka yang punya hobi ngebut pun dapat terpuaskan dengan racing di jalan-jalan di areal Taman Rimba, sementara banyak pula remaja  yang jogging di track yang tersedia ditengah areal eks MTQ.
Sementara untuk anak-anak tersedia boom boom car, komidi putar mini, arena permainan mandi bola, dan fasilitas permainan lainnya yang sifatnya outdoor. Sambil menunggu sang anak bermain, orang tua bisa menikmati aneka jajanan yang tersedia di ruang terbuka.
Setelah berkendara mengelilingi Taman Rimba, motor pun diarahkan ke kebun binatang. Setelah parkir motor dengan membayar restribusi Rp. 1.000,-, dan membayar tiket kami menuju kandang Peter dan Uni, si harimau.  Bercanda sebentar dengan sang Rimau, kaki bergerak ke kandang buaya yang sayangnya tidak punya nama, terus menuju si kuda poni yang terus bergerak anggun. Setelah berfhoto sebentar, kami menuju rumah rusa tutul. Di sana kami melihat dua rusa jantan sedang bertarung sementara rusa-rusa betina bercanda dengan para pengunjung. Puas dengan rusa, kami menuju sarang kasuari dan merak. Sayangnya sang merak tidak memperlihatkan kecantikannya.
“Apa, tuh, yang teriak-teriak?”Tanya si kecil. Segera kami mendekat. Ternyata “saudara tua” sedang berakrobatik dan benyanyi. Beberapa landak menampakkan moncongnya dari lubang sarang. Akhirnya kami mendekati Yanti yang sedang menyantap sajian yang ditawarkan pengunjung, yaitu tebu, pisang dan buah-buahan lainnya. Sayangnya ada beberapa pengunjung yang sedikit “kreatif” dengan mencabuti tumbuhan yang ada dan menyerahkan daunnya kepada Yanti. Padahal telah ada pengumuman untuk tidak mengganggu tanaman dan memberi makan pada hewan. Rupanya mereka tidak bisa membaca.
Puas melihat Yanti menyantap makanannya, langkah pun diarahkan ke sangkar burung raksasa. Dengan berjalan memutari gedung kami dapat melihat beberapa koleksi burung yang sedang bersantai. Setelah itu, si sulung berniat keras untuk menunggang kuda. Setelah menunggu antrian, dengan membayar Rp. 5.000,-, tercapailah cita-citanya untuk menjadi Pangeran Diponegoro.
Tak sampai tiga puluh menit di areal kebun binatang mini, kami melangkah ke tempat parkir dan bergerak meninggalkan Taman Rimba Jambi yang terus berbenah dan memperlengkapi diri dengan berbagai penambahan koleksi binatang, fasilitas permainan, dan fasilitas penunjang lainnya. Semoga niat baik Pemprov Jambi untuk memberikan sarana hiburan yang bermutu untuk warganya dapat segera terwujud. Amiin.

Senin, 13 Desember 2010

Tradisi Aqiqah dan Cukuran dalam Masyarakat Jambi

Pemotongan Rambut oleh Tetua Masyarakat. Biasanya diwakili oleh 7 orang. Rambut yang telah dipotong akan dimasukan ke air kelapa. Setelah itu pemotong akan disemprot parfum.

Kompangan. Salah satu kesenian tradisional khas Jambi. Kesenian ini digelar saat acara Aqiqah ketika pemmbacaan Barjanzi. Selain itu, Kompangan diperdengarkan ketika acara pernikahan.

Senin, 22 November 2010

Sang Pemilik Masa Depan


Tatkala masih muda, bebas, dan imajinasi melayang liar, aku bercita-cita untuk mengubah dunia.

Ketika makin tua dan bijak, kusadar bahwa dunia tak akan berubah, maka kupangkas sasaran dan memutuskan untuk mengubah negeri ini, tapi nyatanya sia-sia.

Tatkala kian jauh mengarungi masa tua, kupangkas lagi sasaran, aku berniat keras untuk mengubah keluargaku, mereka yang memiliki hubungan terdekat, tapi, aduh, mereka pun tak beda.

Dan kini tatkala aku terbaring di ranjang kematian, baru kusadari: Seandainya dulu, ketika masih muda, bebas, dan imajinasi melayang liar, aku mengubah diriku sendiri sehingga melalui teladan barangkali aku akan berhasil mengubah mereka yang memiliki hubungan terdekat. Dari inspirasi dan dorongan keluarga, aku seharusnya dapat memperbaiki negeri ini dan, siapa tahu, aku mungkin atau, bahkan, mampu mengubah dunia. (Canfield & Hansen)

Minggu, 07 November 2010

Cemara Nan Abadi


Tumbuhan cemara termasuk dalam klasifikasi tumbuhan berbiji. Tumbuhan berbiji atau Spermatophyta (Yunani, sperma=biji , phyton=tumbuhan) merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki ciri khas, yaitu adanya suatu organ yang berupa biji. 

Biji merupakan bagian yang berasal dari bakal biji dan di dalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga. Lembaga akan terjadi setelah terjadi penyer bukan atau persarian yang diikuti oleh pembuahan.

Ukuran dan bentuk tubuh Tumbuhan berbiji berukuran makroskopik dengan ketinggian yang sangat bervariasi. Tumbuhan biji tertinggi berupa pohon dengan tinggi melebihi 100 m, misalnya pohon konifer sequoiadendron giganteum di Taman Nasional Yosemite, California, AS dengan tinggi sekitar 115 m dan diameter batang sekitar 14 m. 

Habitus atau perawakan tumbuhan berbiji sangat bervariasi berupa pohon, misalnya jati, duku, kelapa, beringin, cemara; perdu, misalnya mawar, kembang merak, kembang sepatu; semak, misalnya arbei; dan Herba, misalnya sayur-sayuran, bunga lili, serta bunga krokot.

Jenis tumbuhan berbiji yang dimanfaatkan bagi kepentingan manusia antara lain sebagai berikut:
  1. Gandum, padi, jagung dan sagu merupakan makanan utama sebagian besar penduduk di dunia.
  2. Kacang, tomat, kol, kentang, dan wortel merupakan makanan sayuran sebagai sumber serat, protein, dan vitamin.
  3. Kapas dan rami sebagai bahan sandang.
  4. Kayu sebagai bahan papan dan perabotan.
  5. Kumis kucing, jati, mahoni, dan pinus sebagai peneduh, penyimpan air, penyerap karbon dioksida, dan sumber oksigen.
  6. Berbagai jenis bunga untuk dekorasi, upacara adat dan agama, serta kosmetik
b.     Macam-Macam Cemara
Suku cemara-cemaraan atau Casuarinaceae meliputi sekitar 70 jenis tetumbuhan. Sebagian besar suku ini terdapat di Belahan Bumi Selatan, terutama di wilayah tropis Dunia Lama, termasuk Indo-Malaysia, Australia, dan Kepulauan Pasifik.
Klasifikasi ilmiah dari tanaman cemara adalah sebagai berikut:
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan
: Tumbuhan
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Fagales
Famili
: Casuarinaceae
R.Br. dalam Flinders

Dari sekitar 70 jenis tetumbuhan cemara yang pernah dikenal di dunia, hanya sebagian kecil saja yang tumbuh di Indonesia. Selain tumbuh di hutan, cemara kini menjadi tanaman hias. Bentuk cemara yang sangat artistik untuk penataan sebuah taman. Dibentuk sedemikian rupa dalam gaya seni jepang yang bernama bonsai. Jenis cemara asli Indonesia untuk dibuat bonsai yang paling bagus adalah cemara udang, berasal dari daerah Madura, Jawa Timur.

Macam-macam cemara yang dikenal dan tumbuh di Indonesia, yaitu:

No
Nama Indonesia
Nama Latin
1
Cemara angin
Casuarina equisetifolia
2
Cemara Duri
Juniperus rigida
3
Cemara Embun
Casuarina equisetifolia
4
Cemara Kipas
Casuarina equisetifolia
5
Cemara Laut
Casuarina equisetifolia
6
Cemara Norfolk
Araucaria heterophylla
7
Cemara Pinus
Casuarina cunninghamiana
8
Cemara Pua Pua
Juniperus chinensis
9
Cemara Putih
Casuarina equisetifolia
10
Cemara Udang
Casuarina equisetifolia

Selasa, 26 Oktober 2010

Istriku, Izinkan Aku Berpoligami




Senja telah berganti malam. Suara binatang malam terdengar dari balik tembok tinggi yang memisahkan mushalla dengan perkampungan diluar kompleks. Setelah menyelesaikan salat maghrib, kami, jamaah yang kebanyakan masyarakat luar kompleks karena penghuni kompleks elit ini terlalu capek dengan aktivitas kesehariannya, seperti biasa berkumpul di teras mushalla sambil menunggu waktu Isya tiba.
”Kemana saja, Bang?”tanyaku pada Bang Idrus yang hampir seminggu ini tidak hadir di mushalla. Jamaah lain pun menghujani dengan pertanyaan yang sama.
Yang ditanya hanya mesem-mesem salah tingkah.
”Kata si Mail ente ada di rumah.”Mamat Satpam menepuk pundak Bang Idrus.
”Ada bisnis apa?”tanyaku.”Ajak-ajak kalo ada proyek tuh.”
”Ada urusan dikit sama bini.”Akhirnya ia buka mulut.
”Urusan apa, Bang?”sambut Mang Miskam, Si Penjaga musholla.”Mau nambah anak lagi?”
Tawa pun bergema di teras mushola.
”Belum cukup buntut lima, nih?”timpal Ustad Ali.
”Itulah soalnya.”
”Soal apa? Susah nggak soalnya?”gurau Mang Miskam.
”Aku mau nikah lagi.”sentak Bang Idrus penuh ragu.
Senyum pun terkembang. Sudah terlalu sering masalah ini dibahas dalam Majelis Menunggu Isya kami.
”Abang mau nikah lagi?”todong Mang Miskam memastikan.
”Iya.”jawabnya.
”Sudah ada calonnya?”
”Belum, sih.”ucapnya pelan,”tapi niatnya sudah ada.”
”Terus?”
’Katanya kan kalau kita mau menikah lagi, kita harus minta izin dulu dari istri kita.”
”Iya, sih,”jawab Ustad Ali.”Sebaliknya begitu. Biar afdolll....”
”Aku sudah minta izin ke istri dan ia setuju.”
”Terus?”
”Masalahnya hanya satu.”
”Apa itu?”
”Istri ngasih izin dengan syarat.”Ia menatap kami bergantian seperti meminta suport dari kami.
”Apa syaratnya?”berondong jamaah lain.
”Pertama: minta disiapin rumah untuk tempat tinggal biar nggak pusing mikirin uang kontrakan rumah lagi. Kedua: minta uang bulanan untuk bayar uang sekolah anak, uang jajan mereka, dan kebutuhan hidup keluarga.”Bang Idrus mengurut keningnya. Berat sekali masalah yang dihadapinya. ”Kalau semua syarat saya penuhi, ia rela dimadu.”
”Memang benar, dong, permintaan itu, Pak,”ujarku. Beberapa teman lain pun mendukung.
”Bagaimana saya bisa memenuhi semua syaratnya, Dek. Kerja sayakan hanya tukang angkut sampah di perumahan ini.”
Nah lo!

Jumat, 22 Oktober 2010

Dicari: Tenaga Pengajar


PENGAJAR, Mereka yang Dibutuhkan Negeri Ini...

Program dari ”Indonesia Mengajar” yang digagas Anies Baswedan yang juga Rektor Universitas Paramadina, Jakarta bertujuan merekrut generasi muda terbaik untuk menjadi guru SD di daerah terpencil. Ide dasarnya adalah masih banyaknya sekolah dasar di daerah terpencil yang dibimbing guru-guru yang kualitas tidak sesuai dengan standar. ”Jika kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia sulit maju,” kata Anies Baswedan.
Bukanlah suatu keanehan melihat dunia pendidikan di negeri ini, atau mungkin saja ada pula di sudut lain dunia yang penulis tidak ketahui, yang membuat miris, trenyuh, atau bahkan terkesima. Dari pengalaman penulis sebagai tenaga auditor asset Pemerintah Daerah di Musi Rawas, Sumatera Selatan--sekarang penulis aktif di lembaga yang berhubungan dengan dunia pendidikan, terutama pendidikan di daerah terpencil—penyataan Anies Baswedan sebenarnya cerita lama.
Penulis pernah mengunjungi satu sekolah di salah satu desa yang lokasinya sangat sulit dijangkau. Penulis menggunakan kendaraan double gardan untuk sampai ke lokasi sekolah karena harus melewati jalan, sebenarnya tidak layak disebut jalan, dengan beberapa kali dibantu tenaga manusia untuk keluar dari kubangan lumpur.
Setiba di lokasi, mobil pun masuk ke halaman sekolah karena dari papan nama yang nyaris tak terbaca menunjukkan bahwa itu sekolah. Kondisi sekolah sepi dengan beberapa pintu kelas terbuka lebar karena tidak ada lagi penutupnya sementara sapi dan kambing berebut rumput yang tumbuh subur di halaman. Jangan dibayangkan aroma yang timbul dari kotoran mereka yang berserak. Penulis turun dan mendekati beberapa anak yang bermain di salah satu kelas. Beberapa memakai seragam putih merah yang lusuh, beberapa lagi berpakaian alakadarnya, dan semuanya tanpa memakai sepatu. Hanya sandal dan sandal.
Dari hasil tanya jawab singkat dengan mereka, ternyata memang murid di sekolah itu, didapat informasi sang guru hanya mengajar dua hari dalam seminggu, yaitu Selasa dan Rabu. Ini dikarenakan sang guru yang telah berstatus PNS bertempat tinggal di ibu kota kabupaten. Perlu biaya besar untuk pulang dan pergi mengajar, untuk menginap tidak mungkin mengingat keluarga di rumah, atau pindah rumah agar dekat dengan pekerjaaan adalah sesuatu yang mustahil dan tak terpikirkan. Apa solusinya? Kedua guru, Kepala Sekolah merangkap tenaga pengajar dan satunya sebagai pengajar, mengambil kebijakan untuk merekrut tenaga pengajar setempat yang akan menggantikan fungsi mereka apabila mereka tidak masuk sekolah.
Setelah mengetahui nama tenaga honorer dadakan tadi, Penulis menuju rumah yang ditunjuk oleh murid-murid tadi. Tidak jauh ternyata. Dari kejauhan terlihat seorang ibu yang sedang menggendong anak berdiri di pintu pagar. Tanpa alas kaki dan mengenakan caping. Bajunya kedodoran dan hampir sama dengan pakaian murid-murid tadi. Lusuh.
“Assalamualaikum, Bu,”ucap Penulis setelah mendekat.
“Wa alaikum salam,”sambutnya,” Saya lihat tadi Bapak dari sekolah?”
“Iya, Bu.”
“Ada apa, ya, Pak?”
“Ini baru jam sebelas, tapi sekolah sudah bubar, Bu?”
“Iya, Pak,”Salah tingkah si ibu menjawab.”Ibu gurunya sedang ke kota.”
“Ibu juga mengajar di sekolah ini, kan?”tanya Penulis hati-hati. Takut tersinggung.
“Hari ini saya ke kebun. Lagi panen,”jawabnya keluar dari konteks pertanyaan,”Kalau tidak sedang panen, saya pasti mengajar, Pak.”