Selasa, 08 Maret 2011
Bisakah Suatu Keyakinan dimatikan?
Senin, 28 Februari 2011
Permainan Anak Tak Akan Pernah Lekang
Berbagai jenis permainan anak tradisional banyak tersebar diberbagai daerah di Indonesia, bahkan di dunia, disinyalir terancam punah karena tidak ada lagi yang memainkannya. Padahal aneka permainan tersebut memiliki banyak keunggulan yang tak didapat pada permainan modern, seperti tumbuhnya rasa solidaritas atau kesetiakawanan, rasa empati kepada sesama, keakraban dengan alam, dan selalu menjunjung nilai sportifitas. Selain itu, aneka permainan anak tradisional juga akan menjauhkan anak dari sikap konsumtif, menampilkan kegembiraan, gerak tubuh yang ekspresif, disamping juga melatih tingkat kecerdasan dan logika.
Cara bermainnya : Setelah menentukan giliran siapa yang mulai lebih dulu, permainan dimulai dengan melemparkan bola ke atas dan menghamparkan biji. Setelah bola memantul sekali, bola harus diambil kembali. Kemudian, pemain harus mengambil satu per satu biji yang terhampar secara langsung. Setelah terambil semua, biji dihamparkan kembali dan diambil kali ini sekaligus dua buah biji. Begitu selanjutnya sampai sejumlah biji yang dimainkan. Setelah mengambil biji secara langsung selesai, maka kini pemain harus mengubah biji menjadi bentuk tertentu sebelum diambil.
Pemain akan kehilangan gilirannya apabila bola memantul lebih dari sekali, tidak dapat menangkap bola, lupa mengubah salah satu biji menjadi posisi tertentu saat sudah mencapai tahap pit, ro, cin atau peng, atau menyentuh biji lain saat mengambil biji yang harus diambil.
Pemenangnya adalah yang mencapai tahap paling tinggi.
Siapa yang tersentuh akan ditawan di benteng lawan. Teman satu tim dapat berusaha menyelamatkan teman-teman yang tertawan dengan mendatangi benteng lawan dan menyentuh teman-temannya, tetapi tentu saja tidak boleh tersentuh lawannya. Harus ada anggota tim yang menjaga bentengnya. Bila benteng lawan tidak ada yang menjaga, maka pemain dapat menyentuh benteng tersebut yang berarti tim tersebut menjadi pemenangnya.
Setelah berhasil menempatkan batu sampai ujung, dia akan mendapatkan bintang. Dimana bintang diletakkan, ditentukan dengan melemparkan batu ke kotak yang diinginkan. Kotak yang terdapat bintang miliknya tidak boleh diinjak oleh lawan-lawannya sehingga akan menyulitkan lawan. Anak yang paling banyak mendapatkan bintang adalah pemenangnya.
Rabu, 09 Februari 2011
Demokrasi Versi Rezim Berkuasa
kepribadian dan filsafat hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Hal ini
menyebabkan berbagai bentuk pelaksanaan demokrasi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, & bernegara harus berdasarkan Pancasila.
Rabu, 19 Januari 2011
Mencari Format Jambi Masa Depan
- Identitas yang kuat dan jelas melalui penguatan budaya daerah dengan agenda revitalisasi budaya dengan kegiatan reinventing budaya atas dasar sense of urgent.
- Manusia yang unggul melalui pendidikan berkualitas dengan agenda reformasi pendidikan.
- Ekonomi maju melalui pendekatan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat dengan menemppatkan ekonomi sebagai variable dengan agenda transformasi ekonomi.
- Masyarakat sehat dan maju melalui agenda transformasi program pemberdayaan.
Senin, 10 Januari 2011
Taman Rimba, Objek Wisata Kota Jambi
Senin, 13 Desember 2010
Tradisi Aqiqah dan Cukuran dalam Masyarakat Jambi
| Pemotongan Rambut oleh Tetua Masyarakat. Biasanya diwakili oleh 7 orang. Rambut yang telah dipotong akan dimasukan ke air kelapa. Setelah itu pemotong akan disemprot parfum. |
| Kompangan. Salah satu kesenian tradisional khas Jambi. Kesenian ini digelar saat acara Aqiqah ketika pemmbacaan Barjanzi. Selain itu, Kompangan diperdengarkan ketika acara pernikahan. |
Senin, 22 November 2010
Sang Pemilik Masa Depan
Tatkala masih muda, bebas, dan imajinasi melayang liar, aku bercita-cita untuk mengubah dunia.
Ketika makin tua dan bijak, kusadar bahwa dunia tak akan berubah, maka kupangkas sasaran dan memutuskan untuk mengubah negeri ini, tapi nyatanya sia-sia.
Tatkala kian jauh mengarungi masa tua, kupangkas lagi sasaran, aku berniat keras untuk mengubah keluargaku, mereka yang memiliki hubungan terdekat, tapi, aduh, mereka pun tak beda.
Dan kini tatkala aku terbaring di ranjang kematian, baru kusadari: Seandainya dulu, ketika masih muda, bebas, dan imajinasi melayang liar, aku mengubah diriku sendiri sehingga melalui teladan barangkali aku akan berhasil mengubah mereka yang memiliki hubungan terdekat. Dari inspirasi dan dorongan keluarga, aku seharusnya dapat memperbaiki negeri ini dan, siapa tahu, aku mungkin atau, bahkan, mampu mengubah dunia. (Canfield & Hansen)

