Selasa, 22 Januari 2019

ANTON

“Selalu melarang! Selalu melarang!,”gerutu Anton seraya memasuki kamarnya.”Tahunya  hanya melarang.’
Keki benar ia pada orang tuanya. Ia merasa orang tuanya tidak fair. Mereka selalu melarangnya pulang telat sementara, menurut Anton, mereka sendiri selalu pulang malam.
“Papa kan kerja. Mama juga kerja. Tapi kau? Main melulu hingga pulang telat?”kata papanya.
Anton tidak bisa menerima tuduhan seperti itu. Tak selalu ia pulang telat karena ngelayap. Kadang-kadang ia latihan karate atau mengerjakan  soal-soal sekolah di rumah teman atau menyelesaikan pekerjaan rumah bersama.
“Alasan!”kata Papa ketus.
“Percaya atau tidak, terserah!”jawab Anton sengit.
Mungkin karena tanya jawab sudah berubah menjadi saling tuduh atau suatu dialog tak pernah bisa berkembang di antara mereka karena masing-masing sudah mengawalinya  lebih dulu dengan sikap curiga yang berada tidak pada tempatnya, maka komunikasi pun mati. Pertengkaran marak. Perebutan kalah menang: siapa yang benar, siapa yang kalah.
Dan Anton jelas kalah. Tak boleh keluar rumah selama seminggu, sehabis sekolah, apa pun alasannya. Ia hanya tergolek di kamarnya, membaca majalah, atau menyetel musik keras-keras. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi kecuali menggerutu. Ia tidak bisa menerima perlakuan yang tidak adil seperti ini.
“Mentang-mentang punya kekuasaan,”gerutunya berkepanjangan,”Apakah kemudian mereka mempunyai hak untuk bersikap tidak fair? Tidakkah kekuasaan harus diperlakukan hati-hati? Seharusnya mereka tahu bahwa kekuasaan tidak boleh digunakan sembarangan karena kekuasaan cenderung menekan. Jika di dalam rumah sendiri mereka biasa bersikap diktator seperti itu, tidakkah di luar juga akan demikian juga?”
“Jangan heran jika jika Negara ini diperintah oleh para diktator,”ujar Anton lagi.
Dan kesengitan itu disusul dengan kesengitan lain. Kita yang selalu disalahkan, katanya lagi. Kita yang selalu dituduh macam-macam, tidak menatap masa depan segala. Tidakkah justru mereka sendiri yang mewariskan nilai-nilai diktatoristik itu dan nilai-nilai tak benar lainnya, sementara mereka dengan arogannya merasa telah mempersiapkan masa depan kita dengan sebaik-baiknya?
Protes itu berkembang semakin banyak, semakin melebar, semakin aneh, dan semakin tak terkendali. Berjam-jam. Berrhari-hari. Berbulan-bulan.
“Mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka begitu mudah untuk menggunakan kekuasaannya sebagai orang tua, justru untuk menutupi kelemahan mereka sendiri,”kata Anton, suatu hari di warung sekolah, pada jam istirahat yang pendek.
Ternyata ia tidak sendiri. Hampir semua temannya mendukung pendapatnya itu dan mereka beramai-ramai tenggelam gelombang protes, dalam gerutuan yang panjang.
“Tidak seharusnya kita dikerasi atau diindoktrinasi,”katanya.”Kita seharusnya diajak berdialog, membicarakan setiap keinginan dan pandangan masing-masing yang mungkin berbeda. Sikap berdialog itulah yang harus dikembangkan di tengah keluarga dan kita siap untuk berdialog, tapi mereka tidak. Mereka takut kehilangan wibawa jika berdialog. Mereka lebih suka menggunakan kekuasaan yang ada di tangannya sebagai orang tua.”
“Dari awal seharusnya kita sudah diberitahu bahwa ada hal-hal yang sangat prinsipil yang harus dianut dalam keluarga, seperti aqidah, iman, dan larangan-larangan agama dan ada pula hal-hal yang dianggap tak termasuk prinsipil.
Untuk yang pertama, bolehlah mereka mengemukakan pendapat mereka sebagai hal yang tak boleh dilanggar. Jika diberitahu secara baik-baik, kita bisa mengerti bukan? Untuk yang terakhir, setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda bukan? Dan untuk yang terakhir inilah, seharusnya bisa diselesaikan dalam dialog yang terbuka antara mereka dengan kita sebab kita tahu, tujuan dialog sesungguhnya adalah untuk menemukan solusi yang saiing memuaskan. Memuaskan bagi kita, anak-anaknya, dan memuaskan bagi mereka sebagai orang tua.”
“Seharusnya orang tahu itu,”kata Anton lagi, dikesempatan jam istirahat lain.”Tapi mengapa mereka tidak mau tahu? Karena mereka salah. Mereka tidak punya waktu untuk bercerita dan berdialog panjang lebar dengan kita, anak-anaknya.”
“Bukan kita yang harus dilatih untuk menjadi anak baik, tapi mereka yang seharus dilatih untuk menjadi orang tua efektif,”kata Anton mengutip tulisan Dr. Thomas Gordon dalam bukunya Parent Effectiveness Training.

Sumber : republika

Sabtu, 19 Januari 2019

A T I K A H


Perkawinan mereka tidak bisa dipertahankan lagi.
“Salahkan suatu perceraian jika suatu pernikahan telah lama tidak bisa dipertahankan lagi?”keluh Atikah malam itu dikamarnya, seorang diri.
Keluhan itu memang mengungkapkan kepedihan yang teramat dalam. Sebuah tema kesengsaraan yang hitam, kesendirian yang kelam. Mungkin pula suatu kesepian yang teramat menekan dan lelehan air mata yang telah mengering diam-diam.

Ary tak kembali. Ia pergi tanpa pamit lagi, setelah pertengkaran yang hebat marak di sudut-sudut kamar itu dan membakari bantal-bantal mereka. Padahal perkawinan mereka belumlah seumur jagung. Betapa cepat kemesraan itu berlalu, betapa cepat keindahan malam-malam yang penuh gairah itu menguap bagai tak pernah ada sebelumnya. Bagaikan angin kelabu yang bertiup sesaat dengan gemetar kemudian menghilang. Bagaikan gerimis yang melesat cepat di sore yang kelam.
Salah siapakah di antara mereka, jika ternyata mereka tidak mampu mempertahankan janji-janji yang baru saja diucapkan itu? Salah siapakah sehingga bulan madu mereka begitu cepat hambar? Salah siapakah? Ya, salah siapakah?

Kita tidak tahu. Sampai kapan pun kita tidak akan pernah tahu. Tapi, kisah tentang pelbagai perkawinan yang terpuruk hanya beberapa minggu setelah dikukuhkan, beruntun datang. Silih berganti. Dan kita tak sempat mengetahui apa yang menyebabkannya. Begitu mudahkan cinta pupus? Cinta yang mengebu-gebu sebelumnya, begitu mudahkah cinta padam hanya oleh selembar gerimis tipis? Kita tidak tahu. Satu-satunya yang kita tahu mungkin bahwa komunikasi di antara mereka memang sudah lama tidak jalan. Komunikasi telah mati. Mereka pun menjadi asing satu sama lain. Ternyata: Mereka memang tak saling mengenal. Benar: Mereka tak saling mengenal.
“Padahal,”kata Dr. Joyce Brothers,”siapa pun yang hendak memasuki gerbang perkawinan seharusnya sudah mengenal pasangannya dengan sebaik-baiknya. Jangan gegabah memilih pasangan sebab perkawinan, betapa pun, adalah bagian yang tak ternilai dari perjalanan sejarah seseorang di sepanjang hidupnya.”

Dalam bukunya, What Every Woman Should Know About Men, Dr. Joyce Brothers menyarankan bahwa seorang wanita harus benar-benar meneliti pasangannya lebih dulu, sebelum memutuskan untuk menerima lamaran lelaki itu.
“Sebab lelaki,”tulis Dr. Brothers,”penuh kabut dan kabut itu harus disingkapkan.”
“Seorang wanita dapat meningkatkan hubungannya dengan lelaki mana pun--suaminya, anaknya, teman-teman di kantornya, orang-orang yang mengaguminya dan sebagainya—apabila ia mengerti lebih banyak mengenai kebiasaan-kebiasaan lelaki: ketakutannya yang tersembunyi, kecemasannya terhadap kemampuan seksualnya, cita-cita dan pandangan hidupnya, kehausan dan kerakusannya untuk dicintai, fragilitas hidupnya, dan sebagainya.”

Berdasarkan pengalaman konsultasi yang ditekuninya bertahun-tahun, Dr. Joyce Brothers menyadari bahwa banyak wanita yang sesungguhnya tak mengenal pasangannya, padahal mereka sudah lama hidup bersama, saling mencintai, bekerja bersama, dan mengasihi anak-anak yang lahir beruntun dalam hidup mereka.
“Lelaki tak lebih bagaikan porselin yang sangat fragil,”kata Dr. Joyce Brothers,”Itulah yang harus benar-benar difahami oleh seorang wanita.”

Dan itulah pula yang saya kutip dan katakan pada Atika ketika ia datang ke rumah sakit untuk konsultasi. Agak aneh memang, ia datang mengunjungi saya untuk konsultasi, padahal sama sekali tak ada kelainan pada jantungnya. Ia hanya mengeluh sering berdebar di malam hari dan mengalami serangan sesak yang berulang berkali-kali.

“Jika sekarang anda terpaksa memilih perceraian, mungkin karena  anda memang belum membaca What Every Woman Should Know About Men itu. Dr. Dr. Joyce Brothers menekankan bahwa banyak perkawinan yang terpuruk disebabkan oleh fragilnya watak seorang lelaki dan sayangnya anda tak mengenalinya,”kata saya pada Atika.

Dalam hati saya mengatakan bahwa Dr. Joyce Brothers mungkin lupa menganjurkan kaumnya untuk meneliti liku-liku dirinya sendiri lebih dulu sebelum meneliti lika-liku laki-laki. Buku What Every Woman Should Know About Herself memang tak pernah ditulisnya.


Sumber: Republika

Jumat, 11 Januari 2019

A L I

“Saya sangat mengagumi Thomas Carlyle,”kata lelaki itu sesaat setelah menjabat tangan saya,”tetapi catatan anda dalam salah satu tulisan anda tentang Thomas Carlyle itu justru membuat saya tertegun. Itulah yang membuat saya menemukan kembali diri saya sendiri. Juga saat itu, ketika saya harus menerima kenyataan bahwa saya dirawat di sini.”
                Ia bernama Ali.
                Saya di telepon adiknya yang mengabarkan bahwa Ali sedang dilarikan ke rumah sakit karena baru saja mendapat serangan jantung sewaktu memimpin rapat di kantornya. Ketika mengetahui kondisinya stabil-stabil saja selama di ruang rawat intensif itu, saya tidak cemas merawatnya.
                “Saya sendiri tidak cemas. Apa pun yang saya alami,”katanya, seakan tahu tentang perasaan yang baru saja menggeliat dalam diri saya sendiri.
                “Saya mengagumi Thomas Carlyle. Juga catatan anda,”katanya lagi.
                Saya sudah lupa apa yang pernah saya tulis mengenai filsuf tersohor yang dimakamkan di pemakaman Westminster Abbey itu, tapi yang dalam surat wasiatnya menolak dimakamkan di situ. Ia lebih suka dimakamkan di desanya yang kecil, Ecclefechan. Satu-satunya yang saya masih ingat tentang Thomas Carlyle adalah pujiannya yang amat berlebihan tentang desanya yang kecil di pinggir Skotlandia, dekat kota Dumfries.
                “Bukan hanya itu,”kata Ali,” Thomas Carlyle lebih dikenal karena fahamnya yang hitam putih. Ia memang pemberontak di sepanjang hidupnya, yang pernah mengatakan bahwa tak pantas seseorang menjadi pengecut, sekalipun hanya lewat pikiran.
                Bagi Thomas Carlyle, hidup memang hanya diisi oleh para pahlawan dan para pengecut. Menjadi pahlawan adalah cita-cita. Setiap orang harus memiliki cita-cita itu dalam hidupnya. Pertanda seseorang hidup adalah cita-citanya untuk menjadi pahlawan.
                Memang bukan hal yang baru. Mungkin pula sudah begitu klise, tapi ketika kejenuhan dan kelesuan sudah begitu ganas merampok semangat kita atau situasi yang telah begitu lekat dengan keputusasaan seperti yang saya alami saat ini, kata-kata itu menjadi sesuatu baru kembali setiap kali diucapkan.”
                Saya sudah lupa dengan kata-kata Thomas Carlyle itu, sekalipun saya pernah mengutipnya dan menuliskannya. Seakan kata-kata Thomas Carlyle tidak menyentuh lagi bagi batin saya. Barangkali karena saya tak memerlukannya saat ini atau karena saya tidak berada dalam situasi seperti Ali, dirawat sebagai pasien jantung, suatu keadaan yang mencemaskan dan tak jarang membuat seseorang jatuh ke dalam rasa putus asa yang teramat dalam.
                “Tapi, catatan anda pun benar, dok. Ternyata, tidak selamanya memang kita bisa menjadi pahlawan dalam hidup ini. Kita tahu, di dunia ini, ternyata tidak hanya terdiri dari dua warna: hitam dan putih. Begitu banyak yang kelabu, yang membuat hidup ini menjadi tidak mudah. Pula: sekaligus menjadi sangat menarik. Lalu: jika kita menyadari kenyataan  bahwa tanpa menjadi pahlawan atau pengecut, seseorang masih bisa bahagia dalam hidup ini, apabila ia menjadi dirinya sendiri sebagai makhluk Tuhan,”kata Ali.
                Benar-benar saya sudah lupa dengan tulisan itu. Arsipnya pun mungkin sudah tak ada lagi. Tapi saya bersyukur Ali masih mengingatnya. Setidaknya pada saat seperti ini, dimana tak banyak sesungguhnya yang bisa diperbuat oleh seorang dokter dalam menangani serangan jantung yang menimpa seseorang, kecuali ketahanan yang dipunyai pasien itu sendiri.
Dan saya bersyukur Ali tidak kehilangan ketahanan itu sama sekali. Ia selalu tabah. Apa pun yang dialaminya, tak pernah membuatnya cemas berlebihan, seakan ia selalu siap menerima apa pun yang bakal terjadi. Ia siap menerima kenyataan yang, dianggap banyak orang, paling buruk sekalipun.
“Saya siap pergi menghadap-Nya,”katanya suatu hari.”Walaupun saya tak pernah memintanya. Saya hanya mempersiapkan bekal setiap hari agar tidak kurang. Kalau bekal kita tak cukup, kita tak perlu cemas, bukan?”
Diam-diam saya mengagumi sikap hidupnya itu.
Ia memang telah lama menemukan dirinya sendiri.

sumber: republika

Selasa, 08 Januari 2019

R O M I




Di malam yang retak-retak karena gemelut jam dinding itu, ia tersedot ke dalam ruang yang teramat luas, tanpa batas. Cahaya kelabu berpendar di mana-mana. Sunyi dan hening sekali. Ia merasa melayang, berkibar-kibar, mengikuti garis lurus cahaya yang sangat terang menuju ke langit, entah kemana.

Wajahnya pucat pasi, bibirnya gemetar. Matanya kosong dan legam. Rasa takut yang berkilat-kilat di dalamnya.

Seseorang menyambutnya.

“Kemarilah,”suaranya sejuk.

Romi gemetar.

“Kemarilah, anakku,”suaranya lagi, perlahan.

Romi tak sanggup melangkah. Seluruh tubuhnya lemas. Ia hanya menatapi orang tua yang menyambutnya itu. Dilihatnya gamisnya putih, menyilaukan.
Tak jelas garis tubuhnya. Bagaikan bayang-bayang yang seakan transparan karena pendaran cahaya yang amat menyilaukan di sekitarnya itu.

“Wajahmu pucat,”suara orang tua itu lagi.”Adakah yang merisaukanmu?
Adakah yang menakutkan hatimu?”

Romi menggapai-gapai. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

Siapakah orang ini? Kata hatinya. Saya tidak mengenalnya. Benar-benar saya tidak tahu darimana dia datang. Tiba-tiba saja ia berdiri di hadapan ketika saya tersedot oleh cahaya yang terang benderang itu.

“Engkau memang sudah lama tidak mengenaliku lagi, anakku. Engkau sudah terlalu lama melupakan aku karena engkau sibuk. Engkau sibuk dengan perusahaan-perusahaanmu. Engkau sibuk dengan duniamu. Dunia itu telah membiusmu habis-habisan. Engkau memang seorang pekerja yang ulet.”

“Ya, saya memang harus bekerja keras. teramat keras jika ingin sukses.”Tiba-tiba ia menemukan dirinya kembali.

“Engkau sudah sangat sukses, anakku. Aku tahu itu. Bagian dunia mana lagi yang belum engkau miliki? Semua telah engkau miliki kecuali mungkin aku yang tidak lagi engkau miliki.”

Orang tua berjubah putih itu, dengan gamisnya yang berumbai-umbai seakan bermain-main dengan pendaran cahaya disekitarnya, menatapi Romi dengan wajah yang teduh sekali.

“Akulah yang mendampingimu selama ini, anakku,”suaranya lagi.”Akulah yang senantiasa membimbingmu, membisikimu sebab aku tahu, tak mudah untuk senantiasa menjadi seimbang dan berimbang. Tak mudah untuk selalu ingat tujuan awal-mula engkau berada di sini. Ketika engkau tak mempunyai apa-apa, miskin dan tersisihkan, tak mudah untuk mengingat tujuan awal mula itu.
Kini pun, ketika engkau sukses sebagai seorang pengusaha kelas kakap, dengan harta yang berlimpah-limpah, ternyata tetap tak mudah untuk mengingatnya. Banyak yang telah engkau miliki tetapi banyak pula yang telah hilang dari dirimu.
Memang tak mudah untuk menjadi seimbang dan berimbang, tapi justru karena dalam hidup ini sesungguhnya merupakan perjuangan semata-mata, usaha semata-mata, mengapa engkau melupakan tujuan awal mula engkau hadir di sini dalam perjuangan itu? Dan akulah yang selalu mengingatkanmu, berulang-ulang. Walaupun aku tahu, kau kini tak lagi peduli. Kau melupakan diriku.
Seakan aku selama ini hanya menghalangi setiap langkahmu.
Lalu, apakah yang bisa kulakukan? Juga malam ini, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Barangkali engkau memang terpaksa harus pergi ke suatu tempat yang amat jauh malam ini. Dan aku menangis, anakku, jika itu sampai terjadi karena ternyata engkau belum memiliki bekal apa pun.”

Orang tua itu kemudian beranjak hendak pergi.

“Tunggu!”teriak Romi tiba-tiba.”Jangan tinggalkan aku. Jawab dulu pertanyaanku. Siapakah kau? Siapa?”

“Akulah yang senantiasa bersemayam dalam hatimu, anakku,”jawab orang tua itu pelan, sejuk sekali.

Tiba-tiba wajahnya yang semula tidak jelas tampak karena pendaran cahaya disekitarnya itu, kini terlihat teduh sekali. Romi terpana.

Perlahan matanya pun terbuka. Ia menatap sekitarnya. Sunyi sekali di ruangan yang dominan putih dengan aroma obat-obatan itu.


Rabu, 12 Desember 2018

Memahami Makna Kejujuran

Jujur, dalam bahasa Arab, semakna dengan assidqu atau siddiq yang berarti benar, nyata, atau berkata benar. Sedang secara istilah, jujur atau assidqu berarti (1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati; dan, terakhir, (4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan.
Kejujuran merupakan dasar atas tegaknya nilai-nilai kebenaran karena kejujuran identik dengan kebenaran. Ini sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Al-ahzab:70, yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Jujur adalah sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik berupa harta maupun tanggung jawab. Orang yang melaksanakan amanat disebut al-Amin, yaitu orang yang terpercaya, jujur, dan setia.
Bersikap jujur menjadi perhatian utama dalam ajaran Islam. Jujur dalam kehidupan sehari-hari harus menjadi suatu kebiasaan bagi untuk umat Islam. Hal ini terlihat dalam beberapa ayat Al Quran yang secara rinci menganjurkan  umat Islam  untuk secara kaffah bersikap jujur dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Islam, yaitu :
1.      QS. Al-Maidah: 8:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan sekali-kali, janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

2.      QS. At-Taubah:119
“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Kandungan ayat ini memerintahkan orang mukmin agar melaksanakan amal dan pekerjaan mereka dengan cermat, jujur, dan ikhlas karena Allah, terutama pekerjaan yang bertalian dengan urusan kehidupan dunia. Karena hanya dengan bersikap jujur, manusia dapat sukses dan memperoleh balasan yang setimpal dengan yang diharapkan.

Imam Al-Ghazali membagi sifat jujur atau benar sebagai berikut:
1.  Jujur dalam niat, yaitu dalam seriap tindakan dan geraknya, manusia tidak boleh       memiliki dorongan lain selain karena Allah.
 2.  Jujur dalam perkataan, yaitu manusia harus dapat memelihara perkataannya.  
      Setiap   ucapan yang   keluar dari mulutnya  harus sesuai dengan kenyataan yang
      didengar dan dilihatnya.  HOAX  termasuk produk manusia yang bersikap tidak 
      jujur.
3.  Jujur dalam perbuatan, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh sehingga setiap
      tindakan tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya.

Nabi Muhammad Saw adalah contoh nyata dari manusia sempurna dalam hal penerapan sikap jujur dalam kehidupan dan teladan dalam hal penghormatan kepada sikap jujur. Salah satu faktor yang menyebabkan keberhasilan Nabi Muhammad Saw membangun masyarakat Islam adalah karena sifat-sifat dan akhlaknya yang sangat terpuji. Salah satu sifat Nabi Muhammad yang selalu diingat oleh masyarakat Quraisy adalah kejujurannya. Ini terbaca dibanyak cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Islam Mekkah.

Sabtu, 08 Desember 2018

RIA


            DI BAWAH guyuran sinar matahari yang mendidih, Ria menyeka dahinya. Lalu lintas di sekitar halte itu ramai sekali. Orang-orang bergegas tak peduli. wanita itu pun tidak peduli.
“Jika aku juga harus pergi sekarang, kemana aku melangkah?”
Ia tercenung. Kebimbangan bagaikan kerikil-kerikil tajam yang menimpuki hatinya. Kecemasan bagaikan gas beracun yang terhirup ke dalam paru-parunya.
“Haruskah aku meninggalkan mereka?”

Ria tak bisa meneguhkan keputusannya. Jika ia ingin membatalkan keputusan itu sekarang dan kembali pulang adalah sama sekali bukan karena Joko, tapi karena kerinduan pada anaknya diam-diam mulai membasahi kelopak matanya. Ia tidak ingin lagi berjumpa dengan lelaki itu. Ia benci lelaki itu.

“Tidak!”katanya dalam hati.”Saya tidak mungkin rujuk kembali.”

Ketegaran kian tempias di wajahnya. Debu beterbangan, lalu menyatu dengan keringat yang merambat di seluruh pori kulitnya. Matahari menukik. Dan Ria kian gigih, tak beranjak. Ia tak ingin kembali pulang. Setelah pertengkaran terakhirnya yang menghanguskan rumah tangganya itu, Ria meninggalkan rumah tanpa pamit.
“Saya tak tahan lagi,”katanya pada Leni, temannya.

Leni heran, tak mengerti. Ia benar-benar heran karena selama ini tampaknya Ria dan Joko baik-baik saja, tak pernah terdengar hal yang aneh-aneh. Mereka senantiasa tampak mesra di pesta-pesta atau pertemuan-pertemuan lainnya.

Tapi,  kini, tiba-tiba, Ria datang dan menumpahkan kekalutan hatinya sambil menangis.

“Ria,”kata Leni takjub.”Benarkah yang kudengar ini?”
Ria tak menjawab. Hanya air matanya meleleh deras di pipinya.

“Apa yang telah terjadi?”tanya Leni hati-hati.
Kita sering merasa heran menyaksikan mengapa suatu perkawinan yang selama ini tampak baik-baik saja, tiba-tiba pecah berantakan tak terkendalikan lagi dan berakhir dengan perceraian. Kita tak pernah tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya. Tak mudah untuk memahami persoalannya, tapi adakah perceraian, hanya disebabkan persoalan-persoalan kecil?

Perceraian memang terasa sangat menyakitkan, kata seorang psikolog. Tak seorang pun ingin mengalaminya. Memang perceraian adalah satu-satunya jalan yang dihalalkan Tuhan tetapi sekaligus juga dibenci-Nya.

Apa pun yang terjadi, perceraian tidak pernah menyelesaikan masalah. Ia merupakan awal dari suatu masalah baru karena kian rumitnya kompleksitas jiwa seseorang yang pernah mengalaminya.
Perceraian bukanlah jalan yang terbaik. Perceraian hanya merupakan jalan yang terakhir.

Tapi, benarkah tak ada jalan lain? Benarkah setiap pertengkaran yang terjadi dalam rumah  tangga tidak dapat diselesaikan? Benarkah ada perbedaan yang tak mungkin diserasikan kembali? Tak mudah memang untuk menjawabnya. Sebab tak jarang hati yang terlanjur luka akan abadi terasa perihnya. Dan luka yang perih itu tak jarang membuat seseorang tak mampu memaafkan orang lain. Itulah trauma yang membuat seseorang senantiasa merasa takut, bukan karena peristiwa buruk yang pernah dialaminya, tetapi justru pada peristiwa serupa yang belum terjadi sama sekali.

“Jika kau anggap persoalannya tidak menyangkut hal-hal yang sangat prinsipil dalam hidupmu, tidakkah memaafkan jauh lebih baik dari perceraian?”kata Leni.

Dan kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telinganya ketika Ria masih terpaku di halte itu.

“Saya bukannya tak mau memaafkan,”kata hatinya.”Sebenarnya saya hanya takut kalau sewaktu-waktu ia mengulanginya lagi.”
Sudah malam. Seorang wanita beranjak dari halte itu. Tak ada yang tahu, apa yang terjadi dalam rumah tangganya dan orang-orang memang tidak peduli. Semua tak peduli. Wanita itu bingung hendak kemana ia melangkahkan kaki.

Jumat, 07 Desember 2018

T I A


“Saya mengharapkan dia akan berubah.”

“Mengapa?”

“Karena saya mencintai dia,”ujar Tia sendu.

Ia memang sangat mencintai lelaki itu. Sejak pertama kali bertemu di kampus, Tia jatuh cinta pada Jodi. Hatinya bergetar waktu itu. Satu bisikan yang maha halus dan lembut tumbuh dalam dirinya. Membisikan bahwa Jodilah yang akan menjadi suaminya. Adakah cinta memang merupakan getaran-getaran yang tak mudah dimengerti? Adakah cinta memang misteri?
Hanya tiga bulan kemudian, mereka memasuki jenjang pernikahan. Begitu cepat proses perkenalan yang mereka alami, tapi seakan-akan sudah bertahun-tahun mereka saling menjajaki.

“Jika cinta dan lelaki mesti dianalisis dulu dengan sangat teliti, kita tidak akan mungkin mempunyai jodoh,”kata Tia dulu ketika seorang teman mengingatkannya supaya meneliti Jodi lebih dulu sebelum menerima lamarannya. Sebab semua teman di kampus tahu, Jodi bukanlah lelaki yang alim dan latar belakang keluarganya pun berkeping-keping.
“Jangan melihat latar belakang sejarah keluarganya karena kita   tidak menikah dengan keluarganya tapi dengan dirinya sendiri sebagai individu. Tidak selalu seorang lelaki yang berasal dari keluarga broken home akan mempunyai sifat-sifat buruk pula. Seseorang akan berubah apabila kita mencintainya dengan tulus,”ujar Tia lagi.
Tia menolak  menghakimi seseorang sebelum mengenalnya dengan baik. Dan Jodi, di matanya, adalah seorang lelaki yang hangat dan  calon suami yang baik. Mengapa Mella, temannya itu, ikut campur dalam menentukan pilihan-pilihan yang menyangkut masa depannya sendiri?

“Setidaknya kau adalah temanku, Tia,”kata Mella,”Saya tahu, kita tidak boleh menghakimi seseorang akan mempunyai tingkah laku yang buruk pula, apabila berasal dari keluarga broken home, sama halnya dengan menjamin ia pasti baik. Saya hanya ingin mengingatkan agar kau sedikit berhati-hati dan mencoba mengenal Jodi lebih baik. Keputusan untuk memasuki jenjang pernikahan yang telah kalian putuskan, menurut saya, memang agak terlalu cepat.”

Tia dan Mella sedang duduk-duduk di rerumputan sore itu, menunggu kuliah berikutnya. Angin mengalir pelan dan matahari sore membiaskan kehangatan lewat celah-celah cemara yang berbaris rapi di kampus itu. 

“Mengenal pribadi seseorang dengan lebih baik, terutama pikiran dan pandangannya sehari-hari, saya kira itulah yang terpenting,”sambung Mella.

“Tapi, bukankah seseorang bisa berubah dan akan selalu berubah,”kata Tia.

“Begitu mudahkan seseorang mengubah hal-hal prinsip dalam hidupnya?”

Tia terdiam. Ia enggan menanggapi Mella lagi. Entah mengapa, kali ini ia benar-benar jatuh cinta pada Jodi, sekalipun ia pernah mendengar bahwa Jodi mempunyai citra yang kurang baik dalam bercinta. Ia mencintai Jodi, sangat mencintainya. Ia takut kehilangan lelaki itu dan ia pikir hal-hal lain bisa diperbaiki nanti. Yang penting, janganlah percintaan ini menjadi putus dan Jodi lepas.

“Jika wanita terlalu berharap pasangannya akan berubah pada suatu saat, sesungguhnya ia termasuk woman who love too much,”kata Robin Norwood dalam bukunya dengan judul yang sama seperti itu, Woman Who Love Too, 1985.”Dan cinta yang berlebihan memang tidak lagi rasional. Maka, ia pun akan jatuh dalam penderitaan yang teramat panjang. Padahal kita tahu, cinta selalu bermula secara emosional dan kemudian, setelah memasuki pernikahan, akan berubah menjadi rasional.”

Masih juga sampai hari ini, banyak wanita yang kurang percaya bahwa jodoh benar-benar bukan wewenangnya sama sekali. Karena itu banyak wanita yang enggan menggunakan rasionya di awal-awal percintaannya. Mereka takut kehilangan. Juga bagi Tia waktu itu.

Sumber: Republika