Kamis, 04 Agustus 2011

Inilah Kalimat yang Mengikat Kita

Inilah Kalimat yang Menyatukan Umat Islam

Masjid dan Pusat Islam di Eropa dan Amerika mempersatukan banyak sekali orang dari seluruh penjuru dunia. Sangat sering sebuah mesjid berisi kelompok-kelompok kultural tanpa ada satu pun yang mayoritas. Hal ini khususnya terjadi atas mesjid yang dikelola oleh kelompok mahasiswa di universitas-universitas Barat. Gabungan beragam kultural seperti itu menciptakan banyak  perbedaan pendapat yang bisa dengan sangat mudah berkembang menjadi perselisihan dan keretakan komunitas.

Perselisihan semacam itu terjadi pada satu malam di mesjid Universitas of San Fransisco. Saya tidak ingat penyebab pasti dari perselisihan itu. Kalau tak salah peristiwa itu berkenaan dengan setumpuk brosur anti-Syi’ah yang ditinggalkan di dalam mesjid oleh seseorang. Perselisihan itu terjadi sewaktu perang Iran-Iraq sedang memuncak dan banyak propaganda agama dan politik disebarkan oleh kedua kelompok yang sedang berkonflik dan sekutu-sekutu mereka. saya ingat dengan jelas betapa perselisihan itu berubah menjadi sangat panas.

Orang-orang Saudi sangat marah kepada orang-orang Kuwait dan Iran; mahasiswa-mahasiswa Pakistan bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa Saudi. Orang-orang kulit putih AS membela orang-orang Iran; orang-orang kulit hitam melawan orang-orang kulit putih. Mahasiswa-mahasiswa Afrika Utara dan mahasiswa-mahasiswa Palestina tampaknya saling bertengkar satu sama lain dan juga dengan orang lainnya; mahasiswa Malaysia kelihatan ketakutan. Semua bentuk serangan pribadi dan ras sangat sengit dan dengki saling berbalasan.

“Kalian orang-orang Syiah kafir!”

“Kalian orang-orang Saudi menyembah raja kalian!”

“Apa yang diketahui orang-orang Amerika tentang Islam?”

“Orang-orang Pakistan hanyalah kacung orang-orang Saudi!”

“Bangsa kami adalah muslim jauh sebelum kalian, anak-anak kulit putih, menjadi muslim!”

“Kalian bangga menjadi pengikut Elijah Muhammad!”

“Orang-orang Palestina memang pantas beroleh apa yang mereka dapatkan!”

Wajah-wajah mereka memerah karena marah. Teriakan-teriakan menjadi bentakan yang mengancam. Mahasiswa-mahasiswa Amerika mengepalkan tinju dan menegangkan lengan, menyiapkan diri untuk berkelahi. Ini benar-benar akan menjadi akhir dari komunitas kami.

Dari seberang pojok ruangan itu, terdengar suara jeritan putus asa,“La ilaha illa Allah! Muhammadun rasul Allah!”

Itulah Ilyas, mahasiswa Indonesia yang pendek kurus dan pendiam. Ia jarang sekali berbicara. Ruangan itu pun menjadi senyap.

“Apa yang dikatakannya?”Beberapa orang saling bertanya satu sama lain.

Ilyas berteriak lagi sekuat-kuatnya: “La ilaha illa Allah! Muhammadun rasul Allah!”

“Ucapkan!”Ilyas berteriak,”Ucapkan!”

Sebagian besar dari kami bergumam bingung: “La ilaha illa Allah! Muhammadun rasul Allah!”

“Apa yang diinginkannya?”seseorang berbisik.

“Ucapkanlah sungguh-sungguh!”teriak Ilyas lagi.

Mungkin karena Ilyas mengucapkannya dengan sangat berwibawa atau dengan penuh semangat dan karena alasan tertentu, kami menuruti peerintah anggota jamaah mesjid kami ini, yang biasanya lembut dan tidak menonjol. Suara kami bertambah keras secara serempak bersama Ilyas yang memimpin kami,“La ilaha illa Allah! Muhammadun rasul Allah!”

Kami bisa merasakan kebencian dan kemarahan menghilang. Semua mata tertuju kepada Ilyas. Segenap wajah dari orang-orang yang bersaudara itu kelihatan terpana. Sebagian dari mereka memperlihatkan rasa sedih, sebagian menyesal, dan sebagian lagi terlihat gembira. Sekarang seluruh kelompok membutuhkan Ilyas untuk membimbing.

“Lagi!”Ilyas meneriakkan,”Lagi!”

Kali ini kami semua bersuara dalam jeritan semangat yang bergelora,“La ilaha illa Allah! Muhammadun rasul Allah!”

Kemudian kami teriakkan lagi, mengikuti bimbingan Ilyas,
“La ilaha illa Allah! Muhammadun rasul Allah!”

Ilyas berhenti, berdiri mematung sejenak dengan berlinang air mata.

Ia memandang kami seperti anak kecil memandang kedua orang tuanya ketika ia menginginkan mereka berhenti bertengkar.

“Hanya itu saja, saudara-saudaraku!”Ilyas berkata, suaranya berubah.”Kalimat itulah yang mengikat kita!”

“Lihatlah Kami!”Ia berteriak, merentangkan kedua lengannya.

Hingga disitulah, orang-orang yang bersaudara itu secara perlahan mulai saling mendekati satu sama lain dengan raut wajah yang sangat malu. Suasana yang baru saja hampir meledak menjadi pertunjukan kekerasan kini berubah menjadi adegan jabat tangan, pelukan persaudaraan, dan permintaan maaf yang tulus. Hari berikutnya, mesjid berjalan normal lagi dan saya tidak pernah mendengar siapa pun memperbincangkan perselisihan lagi.

Cerita yang kukutip dari buku Bahkan Malaikat pun Bertanya karya Jeffrey Lang yang dikeluarkan oleh Penerbit Serambi diharapkan dapat menjadi bahan renungan bagi kita, umat Islam. Seandainya kita pun memahami makna kalimat yang mengikat kita, Insya Allah, tak akan lagi ada aksi kekerasan terhadap kelompok lain, tak akan lagi ada saling hujat antar pemahaman, dan tak akan ada lagi sikap curiga antar lembaga agama.

Seandainya saja ada banyak Ilyas yang mampu menjadi penyatu umat yang terpecah dalam aneka pemahaman, betapa kuat tangan yang mencengkeram kalimat yang mengikat kita.


Senin, 18 Juli 2011

Hidup Sehat Tanpa Alas Kaki


“Hei! Pada nggak pakai sandal, ya?”Istriku berkacak pinggang didepan rumah melihat kami yang berjalan mendekat.

Bertiga, kami, ayah tercinta, si sulung yang gagah, dan si bungsu yang manis, serentak memamerkan senyum  untuk mengurangi rasa marah bunda.

“Wangi! Kenapa nggak pakai sandal?”Istriku bertanya pada si bungsu.

“Ayah saja dak pakai sandal, Bun,”ia membela diri.

“Dak usah ikut kelakuan ayah yang dak benar itu.”

“Kata Ayah, biar sehat kalau jalan pagi, tuh, tanpa sandal, Bun,”dukung si sulung.

“Jangan ditiru kelakuan ayah. Malu sama tetangga, tahu.”

Dua yang tak beralas kaki itu anakku
Malu sama tetangga adalah kata kunci masyarakat modern untuk menghilangkan kebiasaan sehat berjalan kaki. Padahal alas kaki, sebagus dan semahal apa pun, tak akan pernah  cocok dengan karakteristik kaki manusia. Menurut kompas.com sepatu bukan hanya mengubah bentuk kaki, tapi malah membuat kaki lebih rentan cidera.

Jalan pagi memang telah menjadi rutinitasku sejak masih mahasiswa dulu. Kini, kebiasaan untuk jalan pagi tanpa alas mendapat respon dari kedua anakku. Setiap pagi, sambil menuntun sepeda yang dinaiki anakku, kami setia menyusuri jalan di lingkungan rumah. Memang awalnya orang pada heran melihat ketelanjangan kaki kami, tapi, dengan berpegang teguh pada prinsip alah bisa karena biasa, mereka akhirnya terbiasa melihat kebiasaan kami.

Baru-baru ini aku menemukan bahan untuk pembelaan terhadap istri yang tetap saja menolak mentah-mentah kebiasaan kami bertiga untuk bertelanjang kaki. Masih menurut kompas.com, ada enam keuntungan dari berjalan tanpa alas dengan syarat berjalan  di permukaan tanah sedikitnya 3 kali dalam seminggu, yaitu:

1.  Pada musim panas, berjalan tanpa alas kaki memiliki efek mendinginkan tubuh, terutama berjalan menginjak rumput di pagi hari.

2.   Saat kaki tidak dibatasi sepatu, kaki akan menghasilkan gerakan yang mengaktifkan otot-otot di kaki sehingga sirkulasi darah ke bagian jantung menjadi lebih lancar. Fungsi sirkulasi yang lancar ini bisa mencegah bekuan darah di kaki, mengurangi stres pada sistem kardiovaskular dan menurunkan tekanan darah. 

3. Penggunaan sepatu terus menerus bisa membuat otot-otot kaki menjadi lelah. Biarkan otot kaki menjadi rileks dengan berjalan tanpa alas.

4.    Berjalan tanpa alas kaki juga terbukti bisa mengatasi telapak kaki datar. 

5.  Berjalan kaki tanpa alas juga meningkatkan kontak secara langsung dengan alam. Hal ini bisa berpengaruh pada peningkatan level energi dan mengendurkan ketegangan.

6.   Berjalan di permukaan tanah tanpa alas kaki juga membantu menguatkan struktur tulang kaki dan mencegah perubahan bentuk kaki.

Nah, mulai sekarang mari kita kampanyekan “Hidup Sehat Tanpa Alas Kaki”.

Kamis, 14 Juli 2011

Jilbab Tak Lagi Menunjukkan Kualitas Keimanan Pemakainya


Masih kuingat perjuangan para jilbaber generasi awal diakhir era 80-an, ketika isyu menaburkan racun pada beras atau bahan makanan lain yang dilakukan oleh perempuan-perempuan berjilbab di pasar-pasar tradisional banyak memakan korban pemukulan dan pengeroyokan.

Belum lagi pelecehan yang dilakukan kaum pria dengan mengucapkan salam khas Arab, assalamu’alaikum, dengan nada bercanda ketika seorang perempuan berjilbab melintas.

Jilbaber muda yang akan mencerahkan Islam
Pokoknya pada masa itu, berjilbab bukanlah suatu pilihan. Berat sekali tantangan yang harus dihadapi untuk sekedar mengenakan jilbab, baik itu dari lingkungan sekolah, instansi pemerintahan, maupun dari masyarakat luas. Jadi hanya mereka yang kuat secara mental mapun kuat secara keimanan yang mau mengenakan jilbab.

Pakaian gamis yang kebesaran dan berlapis dengan jilbab yang memanjang menutupi tubuh menjadi trend pakaian jilbab generasi awal. Terkadang dilengkapi dengan sarung tangan, kaos kaki, dan penutup wajah, sehingga kesannya Arab abis. Belum lagi kalau berjalan harus dengan langkah yang bergegas.

Tapi, seiring perjalanan waktu, penerimaan masyarakat terhadap perempuan berjilbab pun membaik. Perempuan berjilbab mulai bertebaran dan berani beraktivitas di lingkungan luas.

Dan kini, hari ini, jilbab telah menjadi pakaian nasional. Tak aneh lagi melihat para perempuan mengenakan jilbab ketika menghadiri suatu acara padahal dikehidupan sehari-hari mereka tidak mengenakannya. Belum lagi beberapa daerah, berdasarkan sistem otonomi daerah, menerapkan aturan wajib jilbab bagi anak sekolah tanpa melihat kepercayaan yang dianut sang murid.

Keberadaan jilbab yang lepas dari nilai keagamaan membuat prihatin pihak-pihak yang masih menganggap jilbab sebagai pakaian resmi perempuan Islam. Mereka miris melihat perempuan berjilbab dengan pakaian yang superketat, perempuan berjilbab yang berpegangan tangan atau bahkan berpelukan di muka umum, atau perempuan berjilbab yang melakukan kejahatan.

Ini cerita Uwak yang marah-marah melihat seorang perempuan muda berjilbab dengan cueknya berciuman dengan pasangannya didepannya ketika ia duduk-duduk di taman kota dengan cucunya. 

“Barangkali mereka sudah nikah, Wak?”hiburku untuk menutupi kekecewaannya.

“Dak mungkin. Mereka masih anak sekolah, kok.”

Aku hanya tersenyum menanggapi kengototannya. Aku pun bingung mencari kata hiburan lainnya untuk mengobati kekecewaan Uwak karena ini resiko apabila jilbab hanya dianggap sebagai pakaian yang mengikuti trend mode.












Senin, 20 Juni 2011

Strategi ORBA yang Harus Ditiru SBY

Sumber: lensaindonesia.com
Mengenang kembali keberhasilan Orde Baru dalam menjalankan pemerintahan yang stabil, keamanan yang terkendali, ketersediaan pangan yang terjaga, dan tingkat kesejahteraan yang tinggi menjadi komoditi yang menarik sebagai jargon politik berbagai parpol politik menjelang suksesi kepemimpinan negeri ini.

Hal ini didukung pula hasil survei yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia rindu akan masa lalu kesuksesan Rezim Soeharto menata Indonesia yang gemah ripah ripah loh jinawi.

Sekarang orang meributkan kegagalan pemerintahan pasca kekuasaan Soeharto mewujudkan kondisi Indonesia seperti  semula. Padahal Soeharto membutuhkan dua puluh tahun masa pemerintahannya untuk mencapai masa keemasan pertumbuhan ekonomi yang semu itu. Sementara masyarakat kini mengharapkan  SBY dapat menggunakan tongkat Harry Potter untuk mengubah semuanya.

Menurut saya, SBY pun bisa menjadikan Indonesia kembali makmur seperti nostalgia masyarakat yang pernah menikmati kue pembangunan Orde Baru, yaitu dengan mengikuti strategi yang dilakukan rezim Soeharto, seperti:
  1. Jangan ada pihak oposisi alias kaum pembangkang. Mereka yang berseberangan dengan SBY harus dienyahkan, baik itu dengan penculikan, petrus yang kembali digiatkan, maupun pembunuhan karakter terhadap keluarga para oposisi. Hal ini bukan hanya dilakukan oleh rezim Soeharto, tapi banyak pula dilakukan oleh pemerintah otoriter lain di dunia untuk menjaga stabilitas keamanan pemerintahannya dan terbukti andal, sehingga SBY dapat dengan leluasa menjalankan semua kebijakannya tanpa ada rongrongan dari pihak lain.
  2. Semua informasi dikendalikan oleh pemerintah. Tutup semua stasiun televisi, pemancar radio, dan media cetak. TVRI dan RRI dikembalikan pada khittahnya sebagai corong pemerintah. Dengan penguasaan sumber informasi, maka SBY dapat menjalankan politik pencitraannya dengan lebih efektif. Hidup di Indonesia serasa di surga. Kekerasan, kelaparan, dan kriminalitas hanya terjadi di luar sana, bukan di Indonesia.
  3. Pemilihan kepala pemerintah daerah ditentukan oleh pemerintah. Dengan begitu SBY dapat menempatkan orang-orang kepercayaannya diberbagai lini, sehingga semua kebijakan pemerintah dapat berjalan mulus.
  4. Keberadaan partai politik diminimalisir. Mengikuti garis Soeharto, maka partai politik cukup tiga atau dua. Toh, ini sekedar kamuflase agar terlihat seperti negara demokrasi. Rawat dan giring agar partai politik tidak membesar liar.
Yakinlah, bila SBY mau mengikuti kebijakan Orde Baru, maka dengan singkat Indonesia akan kembali menjadi salah satu macan dunia sebagai kekuatan ekonomi, kekuatan keamanan, dan kekuatan politik seperti keinginan mayoritas masyarakat Indonesia dalam hasil survei tadi.

Toh, masyarakat tak memperdulikan bagaimana kehidupan politiknya, berapa banyak orang mati karena kekuatan senjata penguasa, dan perbuatan zalim lain dari pemerintah. Selama kebutuhan hidup terpenuhi dan bukan diri beserta keluarganya yang  terzalimi, maka dunia serasa di surga. Aman tentram gemah ripah loh jinawi. Beres.

Sabtu, 18 Juni 2011

Menapaktilasi Jejak Masa Lalu

Masa lalu, semanis apapun itu, sepahit apapun itu, akan tetap indah untuk kembali dijelajahi guna sekedar menyatukan pilahan-pilahan kenangan untuk mengisi sebuah ruang rindu.
Mencari dan Menyusun Pilahan Jejak Masa Lalu
Ditengah kesibukan kunjungan kerja anggota DPRD, kucoba meluangkan waktu untuk “melarikan diri” guna menapaktilasi jejak-jejak kaki yang pernah tertancap di kota ini. Dengan berkonspirasi dengan seorang teman yang tinggal di Bandung, aku membajak motor sekaligus pemiliknya untuk ikut menemaniku menjelajahi jalan-jalan di kota Bandung guna menemukan kembali pecahan-pecahan kenangan masa lalu.

Perjalanan di mulai dari Soekarno Hatta, tempat rombongan menginap. Sekitar jam sembilan pagi, tanpa sarapan, kami menuju kantornya di daerah Antapani. Rencananya, dari Antapani, setelah menyimpan ransel pakaian, baru kami menjelajah Bandung. Karena tawaran sang teman akan tempat makan favoritnya yang khas banget, aku setuju untuk ikut. Ketika kutanyakan posisi tempatnya, ia pun merahasiakannya. 

Dari Cicadas, kami berbelok memasuki jalan kecil, entah apa nama jalannya, dan berkat kegesitannya membawa motor, meliuk sana meliuk sini, selip sana selip sini, kami keluar di Jalan PHH Musthopa. Rasanya dulu pun saya sering melewati jalan ini. Segera motor menyusuri jalan PHH  Musthopa menuju daerah Gasibu. Setelah Simpang Empat Cikutra, motor terus berjalan.

Mataku tertuju ke satu tempat yang dulu merupakan tempat favoritku. Bersama seorang teman perempuan, aku selalu ke sana untuk memburu buku-buku bekas. Meskipun tidak sekelas dengan Pasar Palasari, aku suka karena di sana aku bersahabat dengan seorang tua pemilik kios buku bekas. Si bapak mempunyai hobi mengumpulkan buku bekas yang sudah tak utuh lagi untuk diperbaiki dan disempurnakannya menjadi utuh kembali. Begitu si bapak meninggal, aku pun jarang ke sana. Sekarang pasar itu sudah tak terpakai lagi. Pasar Buku Suci namanya.

Motor terus berjalan diantara mobil-mobil yang padat merayap. Melewati Gasibu, tempat kesukaanku di hari Minggu untuk menikmati kue Untuk-Untuk, atas permintaanku motor pun menepi untuk sekedar berfhoto sebagai bukti bahwa aku pernah hadir di sini. Tak sampai lima belas menit, kami pun cabut lagi dan berbelok menuju Dipati Ukur.

Aku mulai bisa menebak tujuan temanku, tapi kubiarkan karena dari belakangnya aku sedang mencoba mencari, mengumpulkan, dan menyatukan kembali jejak-jejak kehadiranku di kota ini.

Benarkan. Ia masuk ke Sekeloa, tempat kost pertamaku di kota ini. Motor terus berjalan melewati gang tempat rumah kost. Di sini aku tiga tahun berdiam dengan dua tempat yang berbeda. Seorang temanku, yang tak etis kusebut namanya, apalagi inisial namanya, pernah pula menjadi tetanggaku.

Akhirnya motor berhenti di warung kecil yang berada disudut. Tak strategis sama sekali. Aku mengikuti langkahnya menuju dapur dan memesan makanan. Setelah itu kami duduk dan tak lama kemudian makanan pun tersaji. Semua serba hangat. Sebakul nasi dengan asap mengibar ke angkasa, sayur asem, ikan asin, tempe tahu, dan lalapannya. Pokoknya nyunda abis. Tak ketinggalan ditingkahi obrolan khas para mahasiswa yang sedang makan di sana. Beginikah aku dulu, ya? Oh ya nama tempat makannya adalah Saung Bu Tatang dan masih murah sekali.

Selesai makan, atas bujukanku, motor keluar Sekeloa, naik ke atas menuju Simpang Dago, dan lurus untuk kemudian ke kiri menuju jalan Tamansari. Astaga! Pasar Balubur, tempatku berbelanja, telah hilang berganti pusat berbelanja modern dan dikangkangi jalan layang. Dimana Ibu penjual serabi yang sering kudatangi setiap pagi dulu itu?

Motor masih berjalan pelan, masuk ke kiri terus, terus ke kanan, terus, terus, dan akhirnya gedung tercinta pun muncul dengan gagah. Tempatku mencari ilmu dan segudang pengalaman itu tak berubah. Gedung Unisba itu masih berdiri menampung banyak mahasiswa yang haus ilmu.

Kami pun masuk jalan Tamansari Bawah. Tujuan adalah sekretariat HMI Korkom Unisba. Masuk Tamansari Bawah adalah sebuah perjuangan bagi para pemula. Dulu aku menyebutnya sebagai sebuah labirin. Kalau kita sudah masuk ke sana, akan sulit untuk keluar lagi karena gang-gangnya sangat banyak dan simpang siur. Tapi syukurlah aku masih mempunyai kemampuan untuk mengingat jalur jalan ke tempat tujuan. Sayangnya tempatku menempa diri dan ditempa pengalaman itu sudah hilang. Gedungnya masih ada, tapi tak ada lagi aktivitas diskusi, rapat-rapat, permainan domino ataupun nyanyian dangdut. Semua hilang. 

Handphone berbunyi. Kuangkat dan aku pun harus segera menghentikan petualangan karena mesti bergabung lagi dengan rombongan. 

Sebenarnya masih banyak lagi untaian kenangan yang belum terambil. Tapi biarlah tersisa agar aku bisa hadir lagi untuk mengulanginya kembali

Senin, 13 Juni 2011

Demam Sm#sh Melanda Jambi

“Ayo, Yah, cepat kito berangkat,”rengek si sulung yang tujuh tahun dan belajar di kelas dua SD itu.
 
“Ini kan baru jam satu, Sayang,”jawabku,”Acaranyo ‘kan jam tigoan.”

“Nanti dak kebagian tempat.”

“Ayah kondangan dulu, baru kito nonton,”bujukku.

“Sayo ikut Koko be, ya, Yah,”ucapnya lagi,”Koko pegi samo Mamanyo.”
Dikejauhan sana, Personil Sm#sh in Action

“Pegilah. Kagek Ayah nyusul.”

Hari itu, Minggu, kelompok penyanyi yang sedang naik daun berkunjung untuk mengadakan pertunjukan di salah satu pusat perbelanjaan di Jambi. Berita tentang kedatangan cowok-cowok keren itu sudah membahana sejak dua minggu lalu. Gaungnya membuat para anak baru gede begitu bersemangat, termasuk juga dilingkungan rumah.

Setiap hari dan setiap saat bahan percakapan diantara mereka adalah personelnya yang keren-keren. Setiap sore, waktu mereka bercengkrama di markas mereka, adalah waktu untuk bernyanyi bersama semua lagu kelompok penyanyi tersebut.

Setelah selesai memenuhi undangan pernikahan seorang staf di kantor, saya dan istri berganti pakaian dan segera meluncur ke tempat pertunjukan. Dengan memakai jalan alternatif, karena yakin jalan utama tak mungkin bisa dilewati, kami pun bergerak. Semakin dekat, kemacetan sudah terlihat. Dengan keterampilan ala Valentino Rossi, motor pun menyelinap diantara mobil, naik turun trotoar, dan menghindari para penonton  yang meluber hingga ke jalan raya guna mendekati arena pertunjukan. Syukurlah akhirnya kami mendapatkan tempat parkir untuk motor dan langsung bergerak mencari si sulung yang entah berada dimana.

Segala upaya dilakukan guna melacak keberadaan Si sulung, tapi itu sulit dilakukan karena padatnya lapangan pertunjukan. Setelah menyelinap diantara para penonton, kami pun mendapat posisi strategis untuk mencari Si sulung. Tapi, terlalu riskan mencari satu orang diantara ribuan manusia yang bergerombol penuh semangat menunggu kehadiran kelompok penyanyi idola mereka.

Sudahlah. Anakku pasti selamat, pikirku. Sekarang para idola telah menaiki panggung, suara penonton pun menggemuruh mengikuti lagu yang dinyanyikan keenam personel karena satu orang tak hadir.

Kuperhatikan penonton yang hadir. Rata-rata anak baru gede berkumpul dibagian depan panggung asyik bergoyang dan menyanyi, tapi dibagian belakang, ditempat yang tak begitu padat,  wajah imut-imut banyak kutemukan diatas bahu para orang tuanya. Wajah imut-imut sepantar dengan anakku. Rupanya magnet Sm#sh tak hanya berlaku terhadap para ABG saja, tapi juga generasi dibawahnya. Hebatnya kemajuan tekhnologi.

Tak sampai tiga puluh menit, sang idola menyelesaikan atraksinya. Panggung pun sepi dan penonton membubarkan diri. Pakaian yang kuyup dengan keringat, rambut yang acak-acakan, tak menghapus rasa bahagia  yang menyembul di wajah mereka karena dapat meraih mimpi melihat para idola secara langsung.

Kami pun menjauh agar tak terkena terjangan para penonton yang secara serentak bergerak meninggalkan arena dan segera kembali ke misi utama, yaitu mencari si sulung. Akhirnya si sulung dapat ditemukan. Wajahnya pun sumringah penuh kepuasan.

Satu yang terlupakan ketika kutatap gerakan para penonton yang bergerak menjauhi arena pertunjukan. Ternyata lebih banyak wajah setengah tua yang hadir di Mall ini. Mereka, baik  dengan sukarela maupun setengah terpaksa, mengawal sang anak untuk sekedar melihat dari kejauhan idola-idola mereka. Kehadiran Smash memaksa para orang tua turun tangan menjaga keselamatan sang buah hatinya. Sesuatu yang tak pernah dilakukan orang tua di kala kanak-kanak aku menonton pertunjukan musik di kampung.



Rabu, 01 Juni 2011

Barca-MU, Bukanlah Pertandingan Impian

Mengikuti pemberitaan media massa, setelah diketahui yang bertemu di pertandingan akhir Liga Champions Eropa 2010-2011 adalah Barcelona dari Liga Spanyol berhadapan dengan Manchester United asal Liga Inggris, maka yang terdengar dan terbaca adalah akan terjadi pertandingan impian antara dua tim kelas dunia, pertandingan antar bintang dunia, dan pertandingan yang menyajikan perang strategi dari dua orang pelatih jenius.
 
Detik pertandingan pun menjelang ketika wasit dari Hongaria memekikkan pluit dan apa yang terjadi? Pertandingan berjalan biasa-biasa saja. Tak ada seru-serunya. Ketika Pedro menjebol gawang Van Der Sar di menit ke 27, pertandingan mulai memanas dengan gerakan pemain MU yang ingin menyamakan kedudukan. Di menit ke 34, Rooney mampu menjebol gawang yang dijaga Victor Valdes, meskipun berbau off side, tapi gol tetaplah gol bila wasit menyatakan sah. Babak pertama pun selesai tanpa ada gol tambahan, meskipun serangan Barcelona melalui Tiki-Takanya lebih menggigit. Villa dan Messi mempunyai peluang mencetak gol, sementara Valdes mampu meninju bola yang menuju Rooney didaerah kekuasaannya.

Babak kedua pun dimulai. Penguasaan bola masih banyak dipegang oleh para pemain Barcelona. Setelah beberapa peluang yang terbuang percuma oleh kedua tim, Messi dengan keahliannya mampu menjebol gawang MU dari tendangan jarak jauhnya di menit ke 54 dan akhirnya kemenangan Barcelona kian telak kala Villa pun menyumbang gol di menit ke 69.

Sampai detik terakhir permainan, kedudukan gol 3 untuk  Barcelona dan 1 untuk Manchester United. Sebuah kemenangan yang layak diperoleh sebuah tim yang mampu tampil begitu indah dan tanpa perlawanan sama sekali.

Final Liga Champions Eropa 2010-2011 tenyata tidak sesuai dengan harapan masyarakat pecinta bola dunia. Pertandingan yang digadang-gadang akan seru dan memikat tidak hadir di lapangan. Punggawa Manchester United tidak memperlihatkan kegigihannya dan tak ada semangat bertanding, hingga pemain lawan dengan santainya menguasai pertandingan. Ada apa MU?

Menilik perjalanan Liga Champions Eropa 2010-2011, sesuai dengan pengamatan Sang pengamat sepakbola amatiran ini, hanya Real Madrid yang mau melawan kedigjayaan Barcelona. Madrid memang kalah kala menghadapi Barcelona, baik secara statistik penguasaan bola maupun jumlah gol yang disarangkan,  tapi perlawanan pemain Putih-Putih yang penuh semangat dan kengototan yang diperagakannya memperlihatkan bahwa mereka bukan seperti musuh-musuh Barca lainnya yang kalah sebelum bertanding. (Sekedar catatan: sebenarnya peran Sang Special One, Mourinho, lebih terlihat, baik itu ketika meracik Chelsea, meramu Inter Milan, dan sekarang di Real Madrid, dalam melawan hegemoni Barcelona.)

Selamat kepada Barca. 
Selamat kepada Messi yang tampil sebagai pemain terbaik.
Selamat kepada Abidal yang menjadi Kapten Kehormatan malam itu.
Nikmatilah kemenangan ini!
 
Nikmatilah Kemenangan Kali ini. Esok Perjuangan Kian Berat.